Gaun Sekretaris Pers Gedung Putih Jadi Sorotan di Tengah Perang Dagang AS-China

Gaun Sekretaris Pers Gedung Putih Jadi Sorotan di Tengah Perang Dagang AS-China

Penampilan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, baru-baru ini memicu perdebatan menarik di tengah tensi perdagangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Peristiwa ini menyoroti kompleksitas ekonomi global dan implikasinya terhadap kebijakan dan persepsi publik.

Karoline Leavitt terlihat mengenakan gaun merah berlengan panjang dengan detail renda hitam yang elegan saat konferensi pers di Gedung Putih pada akhir Januari. Penampilan ini kemudian menarik perhatian Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Indonesia, Zhang Zhishen, yang mengunggah foto gaun tersebut di platform X (sebelumnya Twitter). Unggahan tersebut disertai dengan screenshot dari pengguna Weibo yang mengklaim bahwa renda pada gaun itu diproduksi di sebuah pabrik di Mabu, Tiongkok.

"Menuduh China adalah bisnis. Membeli dari China adalah gaya hidup," tulis Zhang dalam unggahannya, yang kemudian dikutip oleh WWD. Ia menambahkan bahwa seorang pekerja perusahaan Tiongkok mengenali renda pada gaun tersebut sebagai produk mereka.

Unggahan ini memicu diskusi luas di media sosial, memperburuk ketegangan yang sudah ada akibat perang dagang antara kedua negara. Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh mantan Presiden Donald Trump terhadap produk Tiongkok, yang mencapai 145 persen, telah dibalas oleh Tiongkok dengan menaikkan tarif hingga 125 persen untuk produk-produk asal Amerika Serikat.

Kontroversi ini muncul di tengah maraknya konten di media sosial, terutama TikTok, yang membahas bagaimana merek-merek mewah memproduksi barang-barang mereka di Tiongkok. Beberapa pengguna bahkan membagikan video dari dalam pabrik dan informasi lokasi untuk mendorong konsumen membeli langsung dari sumbernya. Data dari Statista menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi produsen dan eksportir pakaian terbesar di dunia selama lebih dari satu dekade, dengan lebih dari 13.820 perusahaan pakaian dan aksesori tercatat pada tahun lalu.

Susan Scafidi, pendiri Fashion Law Institute di Fordham Law School, berpendapat bahwa klaim di TikTok tentang produksi barang mewah di Tiongkok mungkin dibesar-besarkan, tetapi tidak sepenuhnya tidak mungkin. Ia juga menyatakan bahwa tidak mengherankan jika gaun Sekretaris Pers Gedung Putih digunakan sebagai bahan propaganda.

"Mungkin respons terbaik Leavitt adalah tampil di jumpa pers berikutnya dengan bajunya dibalik, label terlihat, jika ia bisa menemukan label 'Made in U.S.A.' yang langka di lemari pakaiannya," kata Scafidi.

Scafidi juga mengungkapkan pesimismenya terhadap penurunan tarif dalam waktu dekat dan kondisi keuangan industri mode Amerika serta konsumennya. Ia juga menyoroti bagaimana pemotongan anggaran di lembaga pemerintah dapat mempersulit pegawai untuk membeli pakaian.

Profesor media digital di Pratt Institute, Minh-ha Pham, berpendapat bahwa insiden ini mencerminkan "titik buta besar dalam pemahaman pemerintahan ini terhadap ekonomi global, terutama dalam penerapan tarif tinggi terhadap negara-negara Asia, khususnya China."

Pham, yang meneliti hubungan antara gender, ras, dan tenaga kerja dalam kapitalisme global digital, menegaskan bahwa globalisasi membuat produksi barang di Tiongkok menjadi hal yang tak terhindarkan.

"Selama hampir satu abad, hukum dan praktik dagang AS telah membantu menjadikan China sebagai pabrik dunia. Tak mengejutkan jika gaun Leavitt dibuat di China, kemungkinan besar, ponselnya dan banyak barang lain yang ia gunakan juga berasal dari sana," jelasnya.

Kasus ini menyoroti bagaimana isu-isu politik dan ekonomi saling terkait erat dengan pilihan pribadi dan bagaimana globalisasi telah mengubah lanskap produksi dan konsumsi.