Protes Komunitas Pesepeda Terhadap Rute Silaturahmi yang Melintasi JLNT Casablanca
Jakarta – Rencana pelaksanaan acara Silaturahride yang melibatkan Gubernur Jakarta dan komunitas pesepeda menuai kontroversi. Sejumlah kelompok pegiat transportasi berkelanjutan menolak rute yang direncanakan melewati Jalan Layang Non Tol (JLNT) Casablanca, yang secara hukum tidak diperbolehkan untuk dilintasi pesepeda.
Chico Hakim, Staf Khusus Gubernur Bidang Komunikasi Publik, menyatakan bahwa rute tersebut bukan inisiatif Gubernur Pramono Anung, melainkan usulan dari komunitas pesepeda. "Rute ini masih bersifat tentatif dan dapat berubah sesuai masukan dari berbagai pihak," tegas Chico. Ia menegaskan bahwa peran Gubernur hanya sebagai tuan rumah yang memfasilitasi titik start dan finis di Balai Kota Jakarta.
Koalisi Mobilitas Berkelanjutan, yang terdiri dari: - B2W Indonesia - Koalisi Pejalan Kaki - Road Safety Association - Komite Penghapusan Bensin Bertimbal
menyatakan penolakan keras terhadap rencana tersebut. Rio Oktaviano dari Road Safety Association mengungkapkan kekhawatiran akan preseden buruk terkait keselamatan jalan. "Jika acara ini dilaksanakan, masyarakat akan menganggap bahwa melintasi JLNT adalah hal yang diperbolehkan," ujarnya.
Komunitas juga mengkritik proses diskusi yang dinilai tidak partisipatif. Meskipun telah diundang oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Jakarta, mereka merasa tidak dilibatkan dalam pembahasan substansial. Dishub awalnya tidak merekomendasikan penggunaan JLNT Casablanca, namun kemudian berubah dengan alasan keamanan selama acara berlangsung.
Acara Silaturahride rencananya akan digelar pada 19 April 2025, dengan rute sepanjang 39 kilometer yang meliputi sejumlah titik penting di Jakarta, seperti Bundaran HI dan Bundaran Senayan. Dishub akan menutup sementara beberapa ruas jalan selama acara berlangsung untuk memastikan kelancaran kegiatan.