Masyarakat Demak Beralih ke Emas sebagai Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

DEMAK – Fenomena pergeseran preferensi investasi masyarakat Kabupaten Demak, Jawa Tengah, semakin terlihat jelas di tengah gejolak ekonomi global. Alih-alih menyimpan uang tunai, banyak warga memilih mengkonversi tabungan mereka menjadi emas, baik dalam bentuk batangan maupun perhiasan. Lonjakan harga logam mulia justru tidak menyurutkan minat beli, melainkan semakin mendorong animo masyarakat.

Endah (28), seorang warga Demak, mengungkapkan alasan di balik keputusannya berinvestasi emas. "Saya memilih emas sebagai investasi jangka panjang karena khawatir dampak kebijakan tarif impor AS terhadap nilai tukar rupiah," katanya. Ia mengaku telah mengalihkan sebagian besar tabungannya ke emas Antam, meski harga per gram sempat melonjak dari Rp1,2 juta menjadi Rp1,8 juta dalam beberapa bulan terakhir.

Berikut beberapa faktor yang mendorong tren investasi emas di Demak: - Ketidakstabilan nilai tukar rupiah akibat kebijakan ekonomi global - Kenaikan harga emas yang signifikan dalam periode singkat - Persepsi emas sebagai aset safe haven di tengah inflasi - Kebiasaan menabung emas yang sudah mengakar di kalangan masyarakat

Tidak hanya kalangan profesional, petani seperti Isna Paroh (35) juga menjadikan emas sebagai alternatif investasi. "Setiap ada hasil panen yang lebih, saya sisihkan untuk beli emas," ujarnya. Berbeda dengan Endah yang memilih emas batangan, Isna lebih memilih perhiasan emas sebagai simpanan likuid yang bisa dijual saat dibutuhkan.

Sri Ratna Wartiningsih, Pimpinan Cabang Pegadaian Demak, mengkonfirmasi peningkatan permintaan emas mencapai 50 persen. "Tren kenaikan harga emas cukup tajam, dalam sebulan terakhir bisa mencapai Rp100.000-Rp150.000 per gram," jelasnya. Fluktuasi harga ini justru semakin memantapkan emas sebagai instrumen investasi favorit di kalangan masyarakat Demak.