Perjuangan Panjang Nenek Marni Menuju Tanah Suci di Usia Sembilan Puluh Tahun

Lebak, Banten – Di usia yang tak lagi muda, Marni (90) membuktikan bahwa tekad kuat mampu mengantarkannya ke tanah suci. Perempuan asal Kabupaten Lebak ini akan menjadi salah satu jemaah haji tertua yang berangkat tahun ini, setelah puluhan tahun mengumpulkan biaya melalui pekerjaannya sebagai tukang pijat.

Marni memulai perjalanannya sebagai tukang pijat sejak tahun 1980. Tanpa pasien tetap, ia menghadapi ketidakpastian penghasilan setiap harinya. Kadang hanya satu orang, terkadang hingga tiga pasien dalam sehari. "Saya tidak pernah menetapkan tarif. Biasanya, saya menerima bayaran antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000 per sesi," ujarnya. Sebagian dari penghasilan itu ia sisihkan untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji.

Pada tahun 2014, tabungan Marni akhirnya mencapai Rp 25 juta, cukup untuk memenuhi syarat pendaftaran haji. Namun, perjuangannya belum selesai. Ia terus bekerja keras untuk menutupi kekurangan biaya yang mencapai Rp 55 juta. Kabar gembira pun tiba tahun lalu ketika namanya masuk dalam daftar kuota haji tahun ini. "Alhamdulillah, saya bersyukur. Semoga diberi umur panjang," kata Marni dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Marni tengah mempersiapkan diri untuk keberangkatan pada 23 Mei mendatang. Ia akan bergabung dengan kloter 52 dari Kabupaten Lebak, didampingi oleh anak pertamanya yang juga turut berangkat sebagai jemaah haji. Persiapan fisik dan mental pun dilakukan, termasuk menghentikan kebiasaan merokok demi kesehatan paru-parunya. "Sekarang sudah tidak merokok lagi," ucapnya dengan tegas.

Perjalanan spiritual Marni menjadi bukti nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk mewujudkan mimpi. Dengan ketekunan dan kesabaran, ia akhirnya mampu menginjakkan kaki di tanah suci, menutup perjuangan panjang yang penuh dengan pengorbanan.