Singapura Kendurkan Kebijakan Moneter Menghadapi Ancaman Pertumbuhan Ekonomi Stagnan

Singapura mengambil langkah strategis dengan melonggarkan kebijakan moneternya untuk kedua kalinya dalam tahun ini, menyusul proyeksi pertumbuhan ekonomi yang semakin suram. Otoritas Moneter Singapura (MAS) memutuskan untuk mengurangi laju apresiasi nilai tukar efektif dolar Singapura (S$NEER) sebagai respons terhadap perlambatan pertumbuhan domestik dan global.

Pada kuartal pertama tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura tercatat sebesar 3,8%, lebih rendah dari perkiraan analis yang mengantisipasi angka 4,3%. Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) kemudian merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini menjadi 0-2%, turun dari perkiraan sebelumnya 1-3%. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi revisi ini meliputi:

  • Penurunan sektor manufaktur akibat melemahnya permintaan global
  • Perlambatan sektor jasa, terutama keuangan dan asuransi
  • Dampak perang dagang AS-China dan kenaikan tarif AS yang mempengaruhi rantai pasok global

MAS juga menyesuaikan proyeksi inflasi untuk tahun 2025, dengan memperkirakan inflasi utama akan berada pada kisaran 0,5-1,5%, turun dari perkiraan sebelumnya 1,5-2,5%. Sementara itu, inflasi inti yang tidak mencakup akomodasi dan transportasi pribadi diproyeksikan berada pada level yang sama.

Ekonom senior Maybank Investment Banking Group, Brian Lee, menyatakan bahwa langkah MAS ini sejalan dengan ekspektasi pasar di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. "Singapura sebagai ekonomi terbuka kecil sangat rentan terhadap gejolak permintaan global dan gangguan rantai pasok," ujarnya. Meski memproyeksikan perlambatan pertumbuhan, Lee optimis ekonomi Singapura masih akan tumbuh positif sekitar 2,1% tahun ini.

Sektor manufaktur dan jasa keuangan yang masing-masing menyumbang 17% dan 14% terhadap PDB Singapura menjadi penyumbang utama perlambatan ekonomi. Pejabat pemerintah telah memperingatkan kemungkinan resesi, meski belum ada kepastian mengenai hal tersebut. Kebijakan moneter yang lebih longgar ini diharapkan dapat memberikan stimulus bagi perekonomian di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat.