Ketidakpastian Kebijakan Tarif AS Picu Gejolak Pasar Valuta Global
Nilai tukar dolar AS terus menunjukkan ketidakstabilan di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global. Pada perdagangan Senin (14/4/2025), dolar AS hanya menguat tipis, namun tetap berada di sekitar level terendah dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap mata uang tersebut sebagai aset cadangan dunia.
Berikut beberapa dampak yang terlihat di pasar valuta asing: - Euro mengalami penguatan signifikan, mencapai level tertinggi dalam tiga tahun. - Franc Swiss sempat mencatat rekor tertinggi terhadap dolar AS sebelum sedikit melemah. - Yen Jepang dan Pound Sterling juga mengalami fluktuasi yang cukup tajam.
Analis pasar menilai gejolak ini dipicu oleh kebijakan tarif impor AS yang diterapkan secara tidak konsisten. "Pasar sedang mengalami disorientasi akibat kebijakan yang berubah-ubah," ujar Tony Sycamore, analis senior dari IG Group. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian ini telah memicu arus modal keluar dari pasar AS menuju Eropa dan kawasan Asia-Pasifik.
Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama, tercatat di level 99.73. Angka ini hanya sedikit lebih tinggi dari posisi terendah tiga tahun yang dicapai pekan sebelumnya. George Saravelos, Kepala Riset Valas Global Deutsche Bank, menyatakan bahwa pasar sedang mengalami proses de-dolarisasi yang berlangsung cepat.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level 4.47%. Tingginya imbal hasil ini turut memberikan tekanan tambahan pada nilai dolar. Sementara itu, mata uang komoditas seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru justru menunjukkan kinerja positif, menguat masing-masing 0.15% dan 0.33%.
Ketegangan perdagangan AS-China juga berdampak pada pelemahan yuan China, baik di pasar domestik maupun lepas pantai. Nilai tukar yuan lepas pantai bahkan mencatat level terendah sepanjang masa, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap eskalasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.