Kasus Langka: Bocah 3 Tahun di Jawa Timur Alami Infeksi Cacing Ascaris Lumbricoides Akibat Sanitasi Buruk
Infeksi Cacing Ascaris Lumbricoides Gerogoti Perut Balita di Jawa Timur
Kasus infeksi cacing Ascaris lumbricoides yang bersarang di perut seorang anak laki-laki berusia 3 tahun di Madura, Jawa Timur, menjadi sorotan. Balita tersebut dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Soebandi setelah mengalami konstipasi parah dan perut kembung selama tiga hari berturut-turut. Gejala awal berupa diare dan demam sempat dialami pasien seminggu sebelumnya, mendorong orang tua membawanya ke fasilitas kesehatan primer. Sempat diduga infeksi saluran kemih (ISK), kondisi anak tersebut justru memburuk.
Kondisi kesehatan pasien semakin mengkhawatirkan saat perutnya terasa semakin penuh dan ia kesulitan buang air besar. Keluarga memutuskan untuk membawa anak tersebut ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Soebandi.
"Di UGD, pasien didiagnosis dengan konstipasi. Pada hari pertama observasi, pasien memuntahkan cacing, sehingga diagnosis mengarah pada askariasis," demikian pernyataan dalam laporan kasus yang diterbitkan di Journal of Medical Case Report.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa berat badan pasien 13 kg dengan tinggi badan 100 cm. Asupan makanan anak tersebut sebelumnya normal, tanpa riwayat penurunan nafsu makan hingga satu minggu terakhir sebelum dirawat di rumah sakit.
Faktor Risiko: Lingkungan yang Tidak Higienis
Riwayat pasien menunjukkan bahwa ia sebelumnya tinggal di Bali dan baru saja pindah ke Jember. Selama di Bali, anak tersebut sering bermain di sungai bersama teman-temannya tanpa alas kaki. Setelah pindah ke Jember, ia sering mengikuti kakek dan neneknya memungut sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa menggunakan alat pelindung.
Kebiasaan lain yang memperburuk kondisi adalah praktik menyuapi anak dengan tangan oleh ibunya dan pemberian air minum yang tidak dimasak dari sumber air yang tidak terjamin kebersihannya.
"Kemudian, pasien dikonsultasikan ke divisi bedah anak untuk menjalani laparatomi eksplorasi," tulis laporan tersebut.
Identifikasi dan Penanganan Cacing
Cacing yang ditemukan selama operasi diidentifikasi sebagai Ascaris lumbricoides, parasit yang umum ditemukan pada infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah atau soil-transmitted helminths (STH). Infeksi ini banyak terjadi di negara-negara tropis dan subtropis dengan tingkat kebersihan pribadi dan sanitasi yang rendah. Indonesia termasuk salah satu wilayah endemis ascariasis.
Sebuah studi oleh Widjana dan Sutisna pada tahun 2000 menunjukkan bahwa A. lumbricoides adalah jenis cacing yang paling umum ditularkan melalui tanah di Bali dengan prevalensi mencapai 73,7 persen.
Setelah tindakan operasi, pasien menerima perawatan intensif berupa cairan infus, antibiotik, dan obat anti-cacing pirantel pamoat (250 mg sekali sehari). Pada hari ketujuh pasca-operasi, pasien diperbolehkan pulang dengan dibekali albendazole (400 mg) sebagai obat yang harus dikonsumsi di rumah.
Ascariasis: Ancaman Kesehatan Akibat Sanitasi Buruk
Kasus infeksi cacing Ascaris lumbricoides pada anak ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi yang baik. Kebiasaan hidup bersih seperti mencuci tangan sebelum makan, menggunakan alas kaki saat bermain di luar rumah, dan mengonsumsi air yang telah dimasak merupakan langkah penting untuk mencegah infeksi cacing. Edukasi mengenai pentingnya sanitasi dan kebersihan pribadi perlu terus ditingkatkan, terutama di daerah-daerah dengan tingkat endemisitas ascariasis yang tinggi.
Infeksi ascariasis bisa dicegah dengan beberapa cara:
- Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah buang air.
- Memastikan makanan dimasak dengan matang.
- Minum air yang sudah dimasak atau air kemasan yang terjamin kebersihannya.
- Menghindari kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi feses manusia.
- Menggunakan alas kaki saat berada di luar rumah, terutama di daerah yang sanitasinya buruk.
- Melakukan pemeriksaan dan pengobatan cacing secara berkala, terutama pada anak-anak yang berisiko tinggi.