Adrien Brody Tetap Pertahankan Gelar Aktor Termuda Peraih Piala Oscar Terbaik
Adrien Brody Pertahankan Rekor di Academy Awards
Adrien Brody mempertahankan rekornya sebagai aktor termuda yang memenangkan penghargaan Aktor Terbaik di Academy Awards. Kemenangannya pada malam penganugerahan tersebut, mengukuhkan prestasinya yang diraih pada tahun 2003, saat ia berusia 29 tahun, atas perannya dalam film The Pianist. Penghargaan tersebut diberikan atas perannya yang luar biasa sebagai seorang seniman Yahudi yang berjuang untuk bertahan hidup dalam tragedi Holocaust. Meskipun nominasi aktor muda berbakat, Timothee Chalamet, sempat mengancam rekor tersebut, Brody tetap berdiri kokoh sebagai pemegang rekor. Kemenangan Brody kali ini atas perannya dalam film drama sejarah The Brutalist semakin mengukuhkan posisinya di sejarah perfilman. Film tersebut mengisahkan perjuangan seorang arsitek yang selamat dari Holocaust namun harus menghadapi tantangan anti-Semitisme, kecanduan narkoba, dan kekerasan di Amerika Serikat.
Dalam pidato penerimaan penghargaan yang penuh emosional, Brody menekankan kerentanan profesi aktor dan pentingnya perspektif dalam karier yang penuh pasang surut. Ia mengutarakan, “Akting adalah profesi yang sangat rapuh. Terlihat glamor, dan pada saat-saat tertentu memang begitu. Namun, satu hal yang saya peroleh, dengan memiliki hak istimewa untuk kembali ke sini, adalah memiliki perspektif. Dan di mana pun kau berada dalam kariermu, apa pun yang telah kau capai, semuanya bisa hilang begitu saja.” Pidatonya sempat terganggu oleh musik latar yang terlalu cepat, namun Brody dengan tegas meminta agar musik tersebut dihentikan, sambil menambahkan, “Tolong matikan musiknya. Saya pernah melakukan ini sebelumnya.” Dengan penuh kesungguhan, ia melanjutkan pidatonya untuk mewakili trauma dan dampak perang, penindasan sistematis, anti-Semitisme, rasisme, dan pengucilan, menyatakan harapannya akan dunia yang lebih sehat, bahagia, dan inklusif.
Sean Baker dan Seruannya untuk Bioskop
Selain kemenangan Brody, Academy Awards malam itu juga menandai keberhasilan sutradara Sean Baker yang meraih penghargaan Best Director. Keberhasilan Baker ini menjadi sorotan karena ia harus tiga kali naik ke panggung untuk menerima penghargaan. Dalam pidato kemenangannya, Baker menyoroti pentingnya pengalaman menonton film secara langsung di bioskop, di tengah dominasi layanan streaming. Ia dengan lantang menyerukan kepada para penonton agar tidak melupakan pengalaman sinematik bersama di bioskop. “Di mana kita jatuh cinta dengan film? Di bioskop,” tegas Baker. Ia menggambarkan pengalaman menonton di bioskop sebagai momen di mana penonton bisa merasakan emosi bersama: tertawa, menangis, berteriak ketakutan, atau bahkan duduk dalam keheningan bersama. Dalam dunia yang terpecah belah, pengalaman kolektif seperti inilah yang semakin penting, menurutnya.
Baker mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penurunan pendapatan bioskop akibat menurunnya penjualan tiket, menekankan bahwa pengalaman menonton di bioskop saat ini sedang terancam, khususnya bioskop-bioskop independen yang tengah berjuang untuk bertahan hidup. Ia mengajak semua pihak untuk mendukung bioskop dan menjaga kelangsungan ekosistem perfilman. “Saat ini, pengalaman menonton di bioskop terancam. Bioskop, terutama bioskop milik swasta, sedang berjuang, dan terserah kita untuk mendukung mereka,” tutupnya. Seruan ini menjadi penutup yang kuat dalam malam penghargaan yang penuh makna dan refleksi bagi industri perfilman.