Kisah Inspiratif Aipda Arya: Polisi Hindu yang Merajut Toleransi di Lombok dengan Dukungan untuk TPQ

Dedikasi Aipda Arya: Merajut Toleransi Melalui Pendidikan Agama di Lombok Barat

Di tengah keberagaman Indonesia, kisah Aipda I Gede Arya Suantara, seorang Bhabinkamtibmas di Desa Gontoran, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menjadi oase yang menyejukkan. Anggota Polri yang beragama Hindu ini tanpa ragu menunjukkan kepeduliannya terhadap pendidikan agama Islam dengan memberikan dukungan kepada Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) sejak tahun 2019.

Kiprah Aipda Arya ini kemudian diusulkan oleh Purwadiah Rahmansyah sebagai kandidat penerima Hoegeng Awards 2025 karena dianggap sosok yang pantas menerima penghargaan. Bukan tanpa alasan, Aipda Arya secara konsisten menyumbangkan Al-Qur'an, Iqra, hingga tikar untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di TPQ-TPQ yang ada di wilayahnya. Tindakan ini bukan hanya sekadar bantuan materi, tetapi juga simbol toleransi dan persaudaraan yang kuat.

Bentuk dukungan Aipda Arya untuk TPQ:

  • Sumbangan Rutin: Memberikan Al-Qur'an, Iqra, dan perlengkapan TPQ lainnya secara rutin sejak 2019.
  • Fasilitasi Donasi: Menjadi jembatan bagi para donatur yang ingin menyalurkan bantuannya ke TPQ yang membutuhkan.
  • Pendekatan Personal: Aktif berinteraksi dengan tokoh agama dan masyarakat setempat untuk memahami kebutuhan dan memberikan solusi.

Salwa Asikin, seorang warga Desa Gontoran, memberikan kesaksian tentang dedikasi Aipda Arya. Menurutnya, Aipda Arya tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan petani dengan memberikan bantuan berupa topi dan peralatan pertanian. Kedekatan Aipda Arya dengan masyarakat, termasuk anak-anak, menjadikannya sosok polisi yang dicintai dan dihormati.

Aipda Arya menjelaskan bahwa motivasinya mendukung TPQ adalah untuk membentengi anak-anak dari pengaruh negatif, terutama karena Desa Gontoran berbatasan dengan wilayah perkotaan yang memiliki tantangan tersendiri. Ia meyakini bahwa pendidikan agama dapat membentuk karakter anak-anak menjadi lebih baik dan menjauhkan mereka dari perilaku yang merugikan. Koordinasi dengan tokoh agama setempat menjadi kunci keberhasilan program ini.

Dana operasional Bhabinkamtibmas yang ia terima dimanfaatkan secara bijak untuk membeli perlengkapan TPQ. Aipda Arya selalu berusaha memenuhi kebutuhan TPQ, mulai dari Al-Qur'an, Iqra, rehal (tempat Al-Qur'an), hingga tikar untuk alas mengaji. Ia juga aktif menjalin komunikasi dengan para donatur yang tergerak hatinya untuk membantu TPQ setelah melihat kepeduliannya.

Dampak Positif Kegiatan TPQ:

  • Perubahan Perilaku: Anak-anak yang sebelumnya dikenal nakal menjadi lebih disiplin dan rajin mengaji.
  • Ketertiban Masyarakat: Menurunnya angka kenakalan remaja dan gangguan keamanan, seperti petasan saat bulan Ramadan.
  • Kedekatan Polisi dan Masyarakat: Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap polisi dan terjalinnya hubungan yang harmonis.

Aipda Arya tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberikan teladan tentang pentingnya toleransi dan kepedulian terhadap sesama. Ia berharap, aksinya ini dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa, tanpa memandang perbedaan agama atau latar belakang. Kisah Aipda Arya adalah bukti nyata bahwa toleransi bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi juga tindakan nyata yang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Aipda Arya juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan warga lainya. Apabila perlengkapan TPQ sudah mencukupi, Aipda Arya juga memberikan bantuan kepada para petani. Ia pernah memberikan bantuan topi untuk petani. Hal ini dilakukan agar sosok polisi yang humanis dapat dikenal masyarakat.