Wall Street Terhuyung Akibat Sentimen Tarif Trump, Investor Cemas Akan Ketidakpastian Ekonomi

Wall Street Terhuyung Akibat Sentimen Tarif Trump, Investor Cemas Akan Ketidakpastian Ekonomi

New York – Pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, mengalami guncangan hebat pada pembukaan perdagangan Kamis (10/04/2025) waktu setempat, dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Sentimen negatif ini menghapus sebagian keuntungan yang diraih pasar pada sesi sebelumnya, yang mencatat lonjakan historis.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) terjun bebas, kehilangan 895 poin atau setara dengan 2,2 persen. Senasib dengan DJIA, indeks S&P 500 merosot tajam sebesar 2,7 persen, sementara indeks komposit Nasdaq, yang didominasi saham-saham teknologi, anjlok lebih dalam sebesar 3,4 persen.

Sektor Teknologi Terpukul

Saham-saham unggulan seperti Apple dan Tesla menjadi pemberat utama bagi kinerja Wall Street. Apple mengalami penurunan lebih dari 3 persen, sementara Tesla, produsen mobil listrik, terperosok lebih dalam dengan koreksi di atas 6 persen. Saham Nvidia, perusahaan teknologi yang bergerak di bidang grafis dan kecerdasan buatan, juga tidak luput dari tekanan jual, terkoreksi sebesar 5,4 persen. Meta Platforms, induk perusahaan Facebook, mengalami penurunan 4 persen.

Penurunan tajam ini terjadi setelah reli yang signifikan pada hari sebelumnya, di mana indeks S&P 500 melonjak lebih dari 9 persen, mencatatkan kenaikan harian terbesar ketiga sejak Perang Dunia II. Indeks Dow Jones juga mencatat kenaikan persentase harian tertinggi sejak Maret 2020, sementara Nasdaq membukukan kinerja harian terbaik sejak Januari 2001 dan rekor terbaik kedua sepanjang sejarah.

Volume perdagangan pada hari sebelumnya mencapai rekor tertinggi, dengan sekitar 30 miliar saham berpindah tangan, level tertinggi dalam 18 tahun terakhir.

Penangguhan Tarif Tak Mampu Redam Kekhawatiran

Reli pada hari sebelumnya dipicu oleh pengumuman Trump mengenai penangguhan sementara tarif untuk sebagian besar negara selama 90 hari, dengan penurunan menjadi 10 persen. Namun, Kanada dan Meksiko dikecualikan dari pengenaan bea tambahan sebesar 10 persen. Uni Eropa juga mengumumkan penangguhan serupa selama 90 hari untuk barang-barang impor dari AS.

Namun, penangguhan ini tampaknya tidak cukup untuk meredam kekhawatiran investor. Kebijakan tarif impor 125 persen yang masih berlaku untuk barang-barang dari China menjadi perhatian utama. Trump menyatakan keyakinannya bahwa AS dan China akan mencapai kesepakatan yang baik.

Analis Waspadai Ketidakpastian

Meski terdapat optimisme terhadap penangguhan tarif, beberapa analis di Wall Street menilai bahwa pasar belum sepenuhnya aman. Bahkan dengan penundaan beberapa tarif, tarif kumulatif 125 persen terhadap China menempatkan tarif efektif pada level tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 23 persen, menurut perhitungan Morgan Stanley.

Michael Gapen, kepala ekonom AS Morgan Stanley, menyatakan bahwa "Penundaan membantu, tetapi tidak mengurangi ketidakpastian." Jeffrey Roach, kepala ekonom LPL Financial, juga memperingatkan potensi gejolak lebih lanjut di masa mendatang.

"Volatilitas pasar dapat tetap tinggi, meskipun ada jeda 90 hari pada tarif untuk negara-negara yang tidak melakukan pembalasan," kata Roach. Dia menambahkan bahwa data konkret dari awal tahun menunjukkan perlambatan ekonomi, terlepas dari kebijakan perdagangan.

Laporan terbaru mengenai indeks harga konsumen menunjukkan inflasi melambat menjadi 2,4 persen secara tahunan pada Maret 2025, lebih rendah dari estimasi konsensus Dow Jones sebesar 2,6 persen. Hal ini menambah kompleksitas prospek ekonomi AS dan menimbulkan pertanyaan tentang langkah kebijakan moneter selanjutnya dari bank sentral.

Daftar Kata Kunci Penting:

  • Wall Street
  • Tarif Trump
  • Penangguhan Tarif
  • Dow Jones
  • S&P 500
  • Nasdaq
  • Inflasi
  • Ketidakpastian Ekonomi
  • Pasar Saham
  • Volatilitas Pasar