Menjelang Akhir Hayat, Santri Lansia Masjid Agung Payaman Magelang Mencari Kedamaian dan Bekal Akhirat di Bulan Ramadan
Menjelang Akhir Hayat, Santri Lansia Masjid Agung Payaman Magelang Mencari Kedamaian dan Bekal Akhirat di Bulan Ramadan
Suasana Ramadan di Pondok Pesantren Sepuh Putri Masjid Agung Payaman, Magelang, tahun ini diwarnai dengan kehadiran ratusan santri lansia. Mereka, sebagian besar perempuan, datang dari berbagai daerah di sekitar Kedu, untuk menjalani ibadah puasa dan meningkatkan ketaqwaan di bulan suci ini. Pondok pesantren yang didirikan oleh Kiai Siroj (Romo Agung) sejak tahun 1938 ini, memberikan wadah bagi para lansia yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat. Berbeda dengan pesantren pada umumnya yang diisi oleh santri muda, Ponpes Sepuh Putri ini secara khusus menampung para lansia yang merasa masih memiliki hasrat untuk memperdalam ilmu agama dan meningkatkan kualitas ibadah mereka.
KH Arif Mafatihl Huda, pengasuh pondok pesantren, menjelaskan bahwa jumlah santri tahun ini mencapai 370 orang. Sebanyak 70 santri menetap sepanjang tahun, sementara 300 santri lainnya mengikuti program khusus Ramadan. Para santri ini datang dengan berbagai latar belakang, namun memiliki tujuan yang sama: mencari ketenangan jiwa, meningkatkan ibadah, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan yang padat, mulai dari mujahadah dini hari hingga pengajian dan tadarus yang berlangsung hampir sepanjang hari. Jadwal kegiatan yang intensif ini dirancang untuk memberikan kesempatan optimal bagi para santri lansia untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kiai Huda menambahkan bahwa bagi banyak santri, kesempatan ini menjadi momen untuk menggenapi ibadah yang mungkin tertinggal di masa muda mereka.
Kesaksian Para Santri:
Kisah Sri Haryani (70) dari Candiretno, Magelang, merupakan contoh nyata dari semangat para santri lansia. Ia mengaku kesulitan untuk menjalankan ibadah dengan disiplin di rumah, sehingga memilih mondok di pesantren ini selama Ramadan. Rutinitas pengajian dan tadarus yang terstruktur di pesantren memberikannya kesempatan untuk fokus beribadah dengan penuh khusyuk. Senada dengan Sri Haryani, Musriyati (68) dari Kendal mengakui bahwa lingkungan pesantren yang kondusif dan kegiatan keagamaan yang berjemaah membantunya untuk lebih disiplin dalam beribadah. Musriyati bahkan rela menutup usahanya selama hampir sebulan untuk bisa fokus beribadah dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Sri Lukiyati (65) dari Sapuran, Wonosobo, yang suaminya telah meninggal dunia, juga datang ke pesantren ini untuk memanfaatkan bulan Ramadan untuk beribadah dengan maksimal. Ia merasa pesantren memberikan kesempatan untuk fokus beribadah yang tidak bisa dilakukannya di rumah.
Keberadaan Pondok Pesantren Sepuh Putri Masjid Agung Payaman menjadi bukti nyata bahwa usia tidak menghalangi seseorang untuk terus menuntut ilmu dan meningkatkan kualitas keimanan. Pesantren ini bukan hanya tempat untuk menuntut ilmu agama, tetapi juga sebagai tempat para lansia mencari kedamaian batin dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Dengan kegiatan yang terstruktur dan lingkungan yang kondusif, para santri lansia ini dapat fokus beribadah dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Generasi penerus pesantren juga akan melanjutkan program ini sebagai wujud pelestarian tradisi keagamaan di Masjid Agung Payaman.