IHSG Anjlok Diterpa Sentimen Global, BP Jamsostek Manfaatkan Momen Koreksi untuk Borong Saham

IHSG Terkoreksi Akibat Tarif Impor AS, BP Jamsostek Justru Melihat Peluang Investasi Emas

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada awal perdagangan hari Selasa (8/4/2025), merosot lebih dari 9% dan memicu trading halt selama 30 menit oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan tajam ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Presiden AS, yang diperkirakan akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia sebagai salah satu mitra dagang utama AS.

Namun, di tengah sentimen negatif yang melanda pasar, BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) justru melihat peluang investasi yang menjanjikan. Lembaga ini berencana untuk memanfaatkan momen koreksi pasar untuk mengakumulasi saham-saham perusahaan dengan fundamental kuat dan valuasi yang menarik atau undervalued.

Direktur Pengembangan Investasi BPJS Ketenagakerjaan, Edwin Ridwan, menyatakan bahwa koreksi IHSG saat ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan. Menurutnya, isu terkait kebijakan tarif AS bukanlah hal baru dan pasar akan menyesuaikan diri seiring waktu. Ia menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia dan kinerja perusahaan-perusahaan publik dalam negeri masih relatif solid.

Strategi Investasi BP Jamsostek di Tengah Volatilitas Pasar

Edwin menjelaskan bahwa koreksi pasar seperti saat ini justru memberikan kesempatan yang baik untuk membeli saham-saham berkualitas dengan harga diskon. Ia merujuk pada pengalaman historis saat krisis keuangan melanda, seperti krisis finansial Asia 1998, krisis subprime mortgage 2008, dan pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Pada setiap peristiwa tersebut, penurunan pasar yang signifikan selalu diikuti oleh pemulihan yang kuat, sehingga menjadi momen yang tepat untuk berinvestasi saham.

"Pengalaman historis menunjukkan bahwa setiap penurunan pasar yang signifikan adalah saat yang tepat untuk membeli saham," ujar Edwin.

BP Jamsostek memandang pembelian saham sebagai bentuk kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perekonomian Indonesia. Dengan mayoritas peserta merupakan pekerja muda, lembaga ini meyakini bahwa Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan negara lain.

BP Jamsostek mengisyaratkan akan meningkatkan eksposur portofolio investasi ke saham seiring dengan membaiknya prospek ekonomi jangka panjang dan valuasi saham yang terdiskon saat ini. Hal ini menunjukkan komitmen lembaga tersebut untuk memberikan hasil investasi yang optimal bagi para pesertanya.

Alokasi Investasi Saham BP Jamsostek

Hingga Februari 2025, total dana kelolaan BP Jamsostek mencapai Rp 790,8 triliun. Dari jumlah tersebut, 6,41% dialokasikan ke instrumen saham. Alokasi ini masih jauh di bawah batas maksimum investasi saham yang ditetapkan sebesar 50% dari total dana kelolaan. Edwin menjelaskan bahwa alokasi saham saat ini lebih rendah dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 15,9% karena strategi investasi saat itu adalah mengurangi eksposur ke aset berisiko seperti saham. Namun, mulai tahun ini, BP Jamsostek berencana untuk meningkatkan eksposur portofolio investasi saham secara bertahap.

BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) adalah badan hukum publik yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. BP Jamsostek bukan perusahaan atau korporasi seperti BUMN.