Testimoni Pilu: Paramedis Gaza Ungkap Kekejaman Tentara Israel Terhadap Tim Medis di Rafah
Testimoni Pilu: Paramedis Gaza Ungkap Kekejaman Tentara Israel Terhadap Tim Medis di Rafah
Munther Abed, seorang petugas medis Palestina yang selamat dari serangan mematikan di Rafah, Gaza, memberikan kesaksian mengerikan tentang peristiwa yang merenggut nyawa rekan-rekannya. Dalam wawancara eksklusif, Abed menceritakan bagaimana pasukan Israel secara sistematis menargetkan tim medis dan penyelamat, menembaki ambulans, dan bahkan mengubur korban di dalam lubang menggunakan buldoser.
Detik-Detik Mencekam di Hashashin, Rafah
Pada dini hari 23 Maret, Abed dan timnya dari Bulan Sabit Merah bergegas menuju lokasi serangan udara di distrik Hashashin, Rafah. Ambulans mereka adalah yang pertama tiba di tempat kejadian, tetapi tanpa peringatan, mereka diserang oleh pasukan Israel.
"Pintu ambulans terbuka, dan saya melihat mereka – pasukan khusus Israel berseragam militer, bersenjata senapan dengan laser hijau dan kacamata penglihatan malam," ungkap Abed dengan nada bergetar.
Dua rekannya yang berada di bagian depan ambulans tewas seketika. Abed selamat karena instingnya untuk menjatuhkan diri ke lantai ambulans. Ia kemudian diseret keluar, dipukuli, diikat, dan dipaksa berbaring di tanah. Dalam kondisi tak berdaya, ia menyaksikan lebih banyak kolega dan tim penyelamat tiba, hanya untuk menjadi sasaran tembakan tanpa ampun.
Tragedi yang Merenggut Banyak Nyawa
Dalam serangan itu, delapan anggota kru ambulans Bulan Sabit Merah, enam petugas penyelamat pertahanan sipil, dan seorang karyawan PBB kehilangan nyawa mereka. Mayat-mayat mereka ditemukan di samping kendaraan yang hancur di sebuah lubang berpasir, tempat Abed menyaksikan pasukan Israel melakukan penggalian. Saksi mata lain melaporkan bahwa beberapa korban ditemukan dengan tangan atau kaki terikat, menambah kengerian peristiwa tersebut.
Salah satu petugas ambulans Bulan Sabit Merah, Assad al-Nassara, masih belum diketahui keberadaannya. Abed mengaku melihat Nassara masih hidup dan ditahan oleh pasukan Israel di sekitar lokasi pembantaian. Namun, sejak saat itu, Nassara menghilang tanpa jejak.
Reaksi Internasional dan Penyelidikan yang Meragukan
Di bawah tekanan internasional, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan penyelidikan formal atas insiden tersebut. Namun, IDF membantah melakukan kesalahan dan mengklaim bahwa mereka menembaki kendaraan yang "bergerak mencurigakan" tanpa lampu depan atau sinyal darurat. Klaim ini dibantah mentah-mentah oleh Abed.
"Lampu ambulans menyala terang, dan logo Bulan Sabit Merah sangat terlihat saat kami menuju ke lokasi kejadian," tegasnya. Abed juga membantah klaim IDF bahwa Hashashin adalah zona perang, dengan mengatakan bahwa itu adalah "daerah sipil tempat kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa."
Kesaksian yang Menggambarkan Kengerian
Sebelum serangan dimulai, Abed menggambarkan ketegangan yang mencekam di dalam ambulans. "Sejak penembakan dimulai, saya langsung berlindung di lantai ambulans. Saya tidak mendengar apa pun dari rekan-rekan saya, kecuali suara-suara saat-saat terakhir mereka, mendengar mereka mengembuskan napas terakhir," tuturnya dengan nada sedih.
"Tiba-tiba, semuanya menjadi sunyi, ambulans berhenti, dan lampu padam. Pintu pengemudi terbuka, dan saya mendengar suara-suara berbicara dalam bahasa Ibrani. Ketakutan dan kepanikan menguasai saya, dan saya mulai melafalkan beberapa kutipan dari Al-Qur'an," lanjutnya.
Jenazah rekan-rekan Abed, Khufaga dan Shaath, ditemukan di lubang yang sama akhir pekan lalu, bersama dengan sisa-sisa enam pekerja Bulan Sabit Merah lainnya: Saleh Muamer, Mohammad Bahloul, Mohammed al-Heila, Ashraf Abu Labda, Raed al-Sharif dan Rifatt Radwan, serta enam pekerja pertahanan sipil Palestina dan seorang karyawan badan bantuan PBB, UNRWA.
Kesaksian Munther Abed memberikan gambaran yang mengerikan tentang kekerasan yang dialami oleh petugas medis dan penyelamat di Gaza. Ceritanya menyoroti perlunya penyelidikan independen dan akuntabel atas insiden tersebut, serta perlindungan yang lebih baik bagi pekerja kemanusiaan di zona konflik.