Larangan Berkata Kasar dalam Islam: Menjaga Lisan Demi Kesempurnaan Iman
Larangan Berkata Kasar dalam Islam: Menjaga Lisan Demi Kesempurnaan Iman
Islam sangat menjunjung tinggi akhlak mulia, termasuk dalam penggunaan lisan. Berkata kasar, mencaci maki, atau mengeluarkan kata-kata kotor adalah perbuatan yang dikecam dalam ajaran Islam. Lebih dari sekadar etika sosial, larangan ini memiliki dimensi spiritual yang mendalam, terkait erat dengan kualitas keimanan seseorang.
Rasulullah SAW melalui hadits-haditsnya memberikan panduan yang jelas tentang pentingnya menjaga lisan. Beliau tidak hanya melarang perkataan kasar, tetapi juga menekankan dampaknya terhadap hati dan jiwa. Seorang Muslim yang baik adalah mereka yang mampu mengendalikan lisannya, berbicara dengan sopan, dan menghindari perkataan yang menyakiti atau merendahkan orang lain.
Hadits-hadits yang Menggarisbawahi Larangan Berkata Kasar
Beberapa hadits secara spesifik menyebutkan larangan berkata kasar dan dampaknya bagi seorang Muslim:
- Hadits Riwayat Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi: Rasulullah SAW bersabda, "Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, yang suka mencaci, mengutuk, berbuat, dan berkata kotor."
- Hadits Riwayat Tirmidzi: Rasulullah SAW bersabda, "Orang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, bukan pula orang yang suka melaknat, bukan orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang suka berkata kotor."
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa perkataan kasar bukan hanya sekadar pelanggaran etika, tetapi juga indikasi kurangnya kesempurnaan iman. Seorang Muslim yang sejati senantiasa berusaha untuk menjaga lisannya dari perkataan yang buruk dan tidak pantas.
Dampak Negatif Berkata Kasar
Abu Usamah Salim dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa berkata kasar dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan negatif lainnya. Perkataan yang buruk dapat memicu kemarahan, permusuhan, dan bahkan kekerasan. Selain itu, berkata kasar juga dapat menodai kehormatan diri sendiri dan orang lain.
Islam mengajarkan pentingnya rasa malu (haya'). Rasa malu akan mencegah seseorang dari melakukan perbuatan tercela, termasuk berkata kasar. Dengan memiliki rasa malu, seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan menjaga lisannya dari perkataan yang menyakiti atau merendahkan orang lain.
Allah SWT Tidak Menyukai Perkataan Kasar
Tidak hanya Rasulullah SAW, Allah SWT juga tidak menyukai hamba-Nya yang berkata kasar dan bersuara keras. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surah Luqman ayat 18-19:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ ١٨ وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِ ࣖ ١٩
Artinya: "Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."
Ayat ini menegaskan bahwa kesombongan dan keangkuhan tercermin dalam perkataan dan perbuatan, termasuk dalam suara yang keras dan kasar. Allah SWT menyukai hamba-Nya yang rendah hati dan lembut dalam berbicara.
Menjaga Lisan: Kunci Menuju Surga
Nabi Muhammad SAW mengingatkan umatnya bahwa banyak dosa yang berasal dari lisan, seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), perkataan yang tidak bermanfaat, candaan yang berlebihan, dan perkataan kasar. Oleh karena itu, menjaga lisan adalah kunci untuk menghindari dosa dan meraih ridha Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah. Sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hati dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR Tirmidzi)
Dengan demikian, menjaga lisan bukan hanya sekadar etika sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seorang Muslim yang mampu menjaga lisannya akan memiliki hati yang lembut, akhlak yang mulia, dan insya Allah, akan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.