Gelombang Mudik Susulan: Kisah Para Pemudik yang Bertolak Setelah Hari Raya Idulfitri

Gelombang arus balik Lebaran sudah mulai terasa, dengan sebagian pemudik kembali ke rutinitas di Jakarta. Namun, di tengah hiruk pikuk ini, ada cerita unik dari mereka yang baru memulai perjalanan mudik mereka. Keterlambatan ini bukan tanpa alasan; beberapa terkendala jadwal kerja yang tidak fleksibel, sementara yang lain berjuang keras untuk mendapatkan tiket transportasi.

detikcom mewawancarai sejumlah pemudik di berbagai titik keberangkatan, mengungkap alasan di balik keberangkatan mereka yang tertunda.

Menanti Jatah Libur: Kisah Mayang dan Keluarga

Mayang, seorang ibu rumah tangga, baru bisa mudik hari ini bersama suami dan anaknya. Sang suami, seorang pekerja pabrik, memiliki jadwal kerja yang tidak mengikuti kalender libur nasional. "Suami saya kerjanya di pabrik, jadi liburnya shift-shiftan. Harus gantian dulu sama teman yang lain," jelas Mayang saat ditemui di Terminal Kalideres, Jakarta Barat. Akibatnya, mereka terpaksa melewatkan momen Idulfitri di kampung halaman.

Meski sudah dua tahun absen mudik saat Lebaran, Mayang tetap bersyukur bisa pulang kampung tahun ini. "Kehilangan momen pasti ya, tapi tetap bersyukur dengan apa yang ada. Alhamdulillah masih bisa pulang tahun ini," ujarnya.

Lebaran Bersama Cucu di Jakarta: Cerita Hasimah

Berbeda dengan Mayang, Hasimah memilih menunda mudik karena ingin merayakan Lebaran bersama anak dan cucunya di Jakarta. "Kemarin anak-anak tidak mengizinkan pulang sebelum Lebaran. Mereka bilang, 'Ngapain pulang? Kan anak cucu banyak di sini,'" tutur Hasimah.

Hasimah mengakui suasana Lebaran di kampung halamannya di Lampung memang lebih meriah. Namun, ia tetap menikmati momen kebersamaan dengan keluarga di Jakarta. "Sama enaknya semua. Di kampung suasananya lebih hidup, tapi di sini juga enak karena bareng anak cucu," pungkasnya.

Cuti yang Tertunda dan Tiket yang Ludes: Alasan Widi dan Kartini

Widi (25), seorang pemudik tujuan Pekalongan, Jawa Tengah, baru mendapatkan cuti hari ini. "Karena baru dapat cuti dan ada acara juga di rumah, jadi baru bisa mudik," kata Widi saat ditemui di Stasiun Pasar Senen.

Widi akan menghabiskan waktu lima hari di kampung halaman. Baginya, melewatkan Lebaran pertama tidak menjadi masalah, karena ia tetap bisa berkumpul dengan seluruh keluarga.

Senada dengan Widi, Kartini juga baru bisa mudik karena kesulitan mendapatkan tiket. "Tiketnya baru dapat sekarang. Kemarin-kemarin penuh terus, tidak bisa diakses," keluhnya.

Padahal, Kartini sudah berupaya memesan tiket sejak sebelum Ramadan. Namun, tiket selalu habis dalam waktu singkat. Kartini bersama suami dan anaknya akan mudik ke Cirebon, Jawa Barat, untuk menghabiskan masa libur sekolah.

KAI Daop 1 Jakarta Tetap Layani Pemudik

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko, menyatakan bahwa pihaknya tetap melayani angkutan pemudik. Bahkan, hingga H+4 Lebaran, jumlah penumpang masih mengalami peningkatan dibandingkan hari biasa.

"Kami menjalankan 85 perjalanan kereta api jarak jauh dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen. Hari ini, ada 33.804 penumpang yang berangkat ke wilayah timur," jelas Ixfan.

Cerita para pemudik ini memberikan gambaran bahwa mudik tidak selalu harus dilakukan tepat saat hari raya. Ada berbagai faktor yang menyebabkan sebagian orang memilih untuk mudik setelah Lebaran, mulai dari jadwal kerja, urusan keluarga, hingga ketersediaan tiket. Yang terpenting, semangat untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kampung halaman tetap membara.