Krisis Demografi: Tingkat Kesuburan China Terjun Bebas, Usia Melahirkan Anak Pertama Semakin Menua
China Bergulat dengan Penurunan Tingkat Kesuburan dan Populasi yang Menua
China menghadapi tantangan demografi yang signifikan dengan penurunan tajam dalam tingkat kesuburan total (TFR) dan peningkatan usia rata-rata wanita saat melahirkan anak pertama. Data terbaru menunjukkan bahwa TFR China telah merosot menjadi 0,9 pada tahun 2025, jauh di bawah angka penggantian populasi ideal yaitu 2,1. Fenomena ini, dikombinasikan dengan populasi yang menua dengan cepat, menimbulkan kekhawatiran serius tentang masa depan ekonomi dan sosial negara tersebut.
Pergeseran Usia Melahirkan dan Peningkatan Infertilitas
Usia rata-rata wanita China yang melahirkan anak pertama terus meningkat. Secara nasional, usia rata-rata kini mencapai 28 tahun, tetapi di kota-kota seperti Shanghai, angkanya bahkan lebih tinggi, mencapai 32 tahun pada tahun 2024, meningkat dari 30 tahun pada akhir 2019. Peningkatan usia melahirkan ini sejalan dengan tren global di negara-negara maju, tetapi terjadi lebih cepat di China.
Selain itu, tingkat infertilitas di China juga dilaporkan meningkat, naik 1-2% sejak tahun 1970-an. Ini berarti lebih banyak pasangan yang mengalami kesulitan untuk hamil atau memiliki anak setelah anak pertama mereka. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan infertilitas ini kompleks dan mungkin mencakup perubahan gaya hidup, polusi lingkungan, dan stres terkait pekerjaan.
Pengaruh Budaya dan Pendidikan
Wilayah-wilayah di China yang secara tradisional dipengaruhi oleh Konfusianisme menunjukkan tingkat kesuburan terendah. Hal ini sebagian disebabkan oleh penekanan berlebihan pada pendidikan dan kesuksesan karir, yang sering kali menyebabkan penundaan pernikahan dan memiliki anak. Akibatnya, wilayah-wilayah ini memiliki proporsi orang yang tidak menikah lebih tinggi, dan data menunjukkan bahwa sulit untuk meningkatkan tingkat kesuburan secara signifikan jika usia rata-rata ibu saat melahirkan pertama kali melebihi 28 tahun.
Konsekuensi Ekonomi dan Sosial
Penurunan tingkat kesuburan dan populasi yang menua memiliki konsekuensi yang luas bagi ekonomi dan masyarakat China. Pada tahun 2022, China mengalami penurunan populasi pertamanya dalam 60 tahun, dengan jumlah penduduk berkurang 850.000 menjadi 1,412 miliar. Penurunan populasi usia kerja, yaitu mereka yang berusia 16 hingga 64 tahun, juga menjadi perhatian. Populasi usia kerja China mulai menurun pada pertengahan 2010-an, turun dari 988 juta pada 2016 menjadi 946 juta pada 2022. Sementara itu, jumlah orang berusia 65 tahun ke atas meningkat secara signifikan, mencapai 210 juta pada 2022, naik 40% dari 2016.
Penurunan populasi usia kerja berarti China tidak dapat lagi mengandalkan tenaga kerja murah dan ekspor terkait untuk pertumbuhan ekonomi. Negara ini perlu berinvestasi dalam teknologi dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Selain itu, populasi yang menua akan memberikan tekanan yang lebih besar pada sistem jaminan sosial dan layanan kesehatan.
Tantangan di Masa Depan
China menghadapi tantangan yang signifikan dalam mengatasi krisis demografinya. Pemerintah telah memperkenalkan berbagai kebijakan untuk mendorong pasangan untuk memiliki lebih banyak anak, termasuk insentif keuangan, peningkatan layanan penitipan anak, dan perpanjangan cuti hamil. Namun, efektivitas kebijakan ini masih belum pasti.
Menurut WHO, China adalah salah satu negara dengan populasi yang menua tercepat di dunia. Populasi orang berusia di atas 60 tahun di China diperkirakan akan mencapai 28% pada tahun 2040. Untuk mengatasi tantangan ini, China perlu berinvestasi dalam perawatan kesehatan dan layanan dukungan untuk populasi yang menua, serta menciptakan lingkungan yang lebih ramah keluarga yang mendorong pasangan untuk memiliki anak.
Solusi yang mungkin dilakukan:
- Insentif untuk kelahiran: Pemerintah dapat memberikan insentif finansial, subsidi perumahan, atau keringanan pajak untuk keluarga dengan anak-anak.
- Peningkatan layanan penitipan anak: Aksesibilitas dan keterjangkauan layanan penitipan anak berkualitas tinggi dapat meringankan beban keluarga muda.
- Kebijakan yang mendukung keluarga: Cuti orang tua yang lebih panjang, jam kerja yang fleksibel, dan dukungan bagi ibu menyusui dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih ramah keluarga.
- Mengatasi ketidaksetaraan gender: Meningkatkan kesetaraan gender di tempat kerja dan di rumah dapat membantu mengurangi tekanan pada perempuan untuk memilih antara karir dan keluarga.
- Meningkatkan kesadaran: Kampanye publik dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya keluarga dan mendorong pasangan untuk memiliki anak.
Krisis demografi di China adalah masalah kompleks yang membutuhkan solusi komprehensif. Dengan mengambil tindakan yang tepat, China dapat mengatasi tantangan ini dan memastikan masa depan yang sejahtera bagi semua warganya.