Warga Jaton di Gorontalo Lestarikan Tradisi Puasa Syawal Enam Hari Setelah Idul Fitri
Tradisi unik dan bernilai spiritualitas tinggi masih lestari di kalangan warga Jawa Tondano (Jaton) di Gorontalo. Memasuki hari kedua Idul Fitri, mayoritas warga Jaton yang telah dewasa memulai ibadah puasa sunnah Syawal selama enam hari.
Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga cerminan dari akar sejarah dan identitas budaya yang kuat. Puasa Syawal, yang dimulai tepat setelah hari raya Idul Fitri, menjadi penanda kesungguhan warga Jaton dalam menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mengapa hari kedua? Karena pada 1 Syawal umat Islam diharamkan berpuasa.
Akar Sejarah dan Warisan Leluhur
Menurut Haryono Suronoto, tokoh masyarakat Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, tradisi puasa Syawal ini merupakan warisan dari para leluhur mereka. Warga Jaton adalah keturunan Kiyai Modjo, seorang tokoh sentral dalam Perang Jawa yang juga dikenal sebagai Kyai Muslim Muhammad Khalifah, bersama 63 prajurit setianya. Mereka diasingkan ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, oleh pemerintah Hindia Belanda pasca-Perang Diponegoro pada tahun 1829. Di tanah pengasingan, mereka berinteraksi dan menikah dengan perempuan Minahasa, sehingga melahirkan komunitas Jaton yang unik.
Selain Kiyai Modjo dan pengikutnya, Tondano juga menjadi tempat pengasingan bagi tokoh-tokoh penting lainnya, seperti Pangeran Perbatasari dari Kesultanan Banjar dan Gusti Amir, adiknya. Latar belakang sejarah yang kaya ini turut membentuk karakter spiritualitas yang kuat dalam kehidupan warga Jaton. Ibadah puasa, zikir, dan praktik-praktik keagamaan lainnya menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka.
Puasa Syawal dan Persiapan Lebaran Ketupat
Puasa Syawal selama enam hari ini bukan hanya sekadar menjalankan ibadah sunnah. Bagi warga Jaton, puasa ini juga menjadi momentum untuk mempersiapkan diri menyambut hari raya ketupat atau bakdo kupat. Hari raya ketupat memiliki makna khusus bagi mereka, karena menjadi simbol syukur atas keberhasilan menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh, dilanjutkan dengan puasa Syawal.
Jamaluddin Haji Ali, warga Reksonegoro lainnya, menambahkan bahwa puasa Syawal telah menjadi ciri khas bagi warga Jaton. Penutupan dari ibadah ini ialah Lebaran Ketupat yang sangat meriah. Bahkan kampung-kampung Jaton akan menjadi pusat keramaian saat Lebaran Ketupat.
Tradisi puasa Syawal dan perayaan Lebaran Ketupat menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Jaton. Mereka merasa memiliki identitas budaya yang unik dan berharga, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semangat gotong royong dan kebersamaan semakin terasa kental menjelang hari raya ketupat, di mana warga saling membantu menyiapkan hidangan khas dan berbagai keperluan lainnya.
Dengan melestarikan tradisi puasa Syawal, warga Jaton tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga merawat akar sejarah dan memperkuat identitas budaya mereka. Tradisi ini menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, sekaligus menjadi bekal untuk menghadapi masa depan dengan semangat spiritualitas yang tinggi.