Bubur Peca: Warisan Kuliner dan Kebersamaan di Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda

Bubur Peca: Warisan Kuliner dan Kebersamaan di Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda

Di bulan Ramadan, Masjid Shiratal Mustaqiem di Kampung Masjid, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur, tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga saksi bisu tradisi kuliner unik yang telah berlangsung lebih dari seabad: pembuatan dan pembagian bubur peca. Bubur gurih nan hangat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, melampaui sekadar hidangan berbuka puasa. Lebih dari itu, bubur peca merepresentasikan semangat kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian warisan budaya leluhur.

Setiap sore sepanjang Ramadan, halaman Masjid Shiratal Mustaqiem, masjid tertua di Samarinda yang berdiri sejak 1881 dan ditetapkan sebagai cagar budaya, dipenuhi aktivitas. Puluhan warga dan relawan bahu-membahu menyiapkan bubur peca yang kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada jamaah dan warga sekitar. Proses pembuatannya membutuhkan waktu dan kesabaran. Sekitar 25 kilogram beras diolah setiap harinya, melewati proses memasak selama hampir lima jam agar bumbu meresap sempurna dan menghasilkan tekstur bubur yang lembut. Rahasia kelezatan bubur peca terletak pada perpaduan santan kental, kaldu ayam kampung, serta rempah-rempah pilihan seperti bawang merah, bawang putih, jahe, dan kayu manis. Rempah-rempah tersebut tak hanya meningkatkan cita rasa gurih, tetapi juga dipercaya bermanfaat bagi kesehatan pencernaan.

Sopian, salah satu warga yang terlibat dalam tradisi ini, menjelaskan, "Kami tidak hanya menyiapkan bubur untuk yang berbuka di masjid, tetapi juga untuk dibawa pulang keluarga. Sekitar 300 porsi bubur peca dibagikan setiap harinya." Tradisi berbagi ini telah berlangsung turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi. Dahulu, pembuatan bubur peca dilakukan oleh para sesepuh dan ibu-ibu kampung. Kini, estafet kebaikan ini diteruskan oleh generasi muda, tetap menjaga keaslian resep dan semangat kebersamaannya.

Lebih dari sekadar kegiatan memasak dan berbagi makanan, tradisi bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem mencerminkan nilai-nilai sosial yang tinggi. Masyarakat, tanpa memandang usia, aktif berpartisipasi, mulai dari menyumbang bahan baku, membantu proses memasak, hingga membagikan bubur kepada para penerima. Semangat gotong royong ini mempererat tali silaturahmi dan memperkuat ikatan sosial di Kampung Masjid. "Semangat kebersamaannya luar biasa," ujar Sopian, mengungkapkan kekagumannya terhadap partisipasi warga. "Setiap Ramadan, orang-orang datang membantu, entah itu menyumbang bahan, membantu memasak, atau sekadar membagikan bubur."

Tradisi bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem bukan hanya sekadar tradisi kuliner, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya dan sejarah. Konon, bubur peca awalnya disiapkan untuk para musafir yang singgah di masjid. Kesederhanaan bahan dan rasa yang mengenyangkan membuat tradisi ini lestari hingga kini. Dengan dukungan warga dan donatur, tradisi ini diharapkan akan terus berlanjut, menjaga warisan leluhur dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Samarinda. "Selama kita masih diberi kesempatan, insya Allah tradisi ini akan terus kita jaga. Ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang kebersamaan, berbagi, dan menjaga warisan leluhur," tutup Sopian, menyatakan tekad untuk melestarikan tradisi berharga ini.