Penentuan Idul Fitri 2025: BMKG Pantau Hilal di 37 Lokasi, Live Streaming Tersedia

Pemerintah dan BMKG Bersiap Pantau Hilal Syawal 1446 H

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), secara serentak melakukan pemantauan hilal untuk menentukan awal bulan Syawal 1446 H, yang menandai Hari Raya Idul Fitri 2025. Pemantauan ini dilaksanakan di berbagai lokasi strategis di seluruh Indonesia.

BMKG Gelar Pemantauan di 37 Lokasi

BMKG secara aktif terlibat dalam proses penentuan awal Syawal dengan menggelar observasi hilal di 37 titik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat dapat menyaksikan proses ini secara daring melalui kanal live streaming yang disediakan oleh BMKG di https://hilal.bmkg.go.id/. Pemantauan ini menjadi penting karena hasil rukyat akan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam sidang isbat yang akan menentukan secara resmi kapan Hari Raya Idul Fitri dirayakan.

Prediksi Posisi Hilal dan Kriteria MABIMS

Berdasarkan perhitungan astronomi, konjungsi atau ijtima diperkirakan terjadi pada Sabtu, 29 Maret 2025. Namun, posisi hilal pada saat Matahari terbenam di tanggal tersebut diprediksi masih berada di bawah ufuk, dengan ketinggian antara -3,29° di Merauke, Papua, hingga -1,07° di Sabang, Aceh. Elongasi geosentris diperkirakan berkisar antara 1,06° di Kebumen, Jawa Tengah, hingga 1,61° di Oksibil, Papua.

Kondisi ini menunjukkan bahwa posisi hilal pada 29 Maret 2025 belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yang menjadi acuan utama pemerintah Indonesia dalam menentukan awal bulan kamariah. Kriteria MABIMS mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3° dan elongasi minimal 6,4°. Oleh karena itu, potensi terlihatnya hilal pada tanggal tersebut sangat kecil.

Prospek Hilal pada 30 Maret 2025

Pada tanggal 30 Maret 2025, situasi diprediksi akan berbeda. Ketinggian hilal saat Matahari terbenam diperkirakan akan berada di antara 7,96° di Merauke, Papua, hingga 11,48° di Sabang, Aceh. Elongasi geosentris juga meningkat, berkisar antara 13,02° di Merauke, Papua, hingga 14,83° di Sabang, Aceh. Dengan demikian, posisi hilal pada 30 Maret 2025 diperkirakan telah memenuhi kriteria MABIMS, sehingga membuka peluang lebih besar untuk terlihatnya hilal dan potensi penetapan 1 Syawal pada tanggal tersebut.

Berikut adalah rangkuman perkiraan posisi hilal:

  • 29 Maret 2025:
    • Tinggi hilal: -3,29° (Merauke) hingga -1,07° (Sabang)
    • Elongasi: 1,06° (Kebumen) hingga 1,61° (Oksibil)
  • 30 Maret 2025:
    • Tinggi hilal: 7,96° (Merauke) hingga 11,48° (Sabang)
    • Elongasi: 13,02° (Merauke) hingga 14,83° (Sabang)

Implikasi Terhadap Penentuan Idul Fitri

Hasil pemantauan hilal yang dilakukan oleh BMKG dan Kementerian Agama akan menjadi dasar utama dalam sidang isbat. Apabila hilal berhasil terlihat pada 29 Maret 2025, maka kemungkinan besar 1 Syawal 1446 H akan ditetapkan pada tanggal tersebut. Namun, jika hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari, dan 1 Syawal akan jatuh pada tanggal berikutnya, sesuai dengan perhitungan hisab dan kriteria MABIMS. Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari pemerintah mengenai penetapan Hari Raya Idul Fitri 1446 H.