Anomali Ekonomi: CORE Indonesia Soroti Daya Beli Masyarakat yang Tertekan Jelang Lebaran 2025
CORE Indonesia: Daya Beli Masyarakat Menengah ke Bawah Terhimpit Jelang Lebaran 2025
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyoroti adanya anomali dalam perilaku konsumsi masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri 2025. Laporan CORE Indonesia yang berjudul "Awas Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025" mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah, mengalami tekanan signifikan. Hal ini tercermin dari berbagai indikator ekonomi yang tidak menunjukkan peningkatan konsumsi yang biasanya terjadi menjelang Lebaran.
CORE Indonesia melihat bahwa hingga pekan ketiga Ramadan, konsumsi rumah tangga masih menunjukkan tren lesu. Temuan ini mengindikasikan adanya upaya pengereman belanja dari kelompok rumah tangga menengah ke bawah. "Kelesuan di bulan Ramadhan dan menjelang hari raya ini adalah sebuah anomali yang menggambarkan ketidakberesan di ekonomi domestik Indonesia," demikian pernyataan CORE Indonesia dalam laporannya.
Indikator-Indikator Pelemahan Daya Beli
CORE Indonesia mengidentifikasi beberapa indikator yang memperkuat dugaan terjadinya pelemahan daya beli masyarakat:
-
Deflasi yang Tidak Lazim:
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi pada Februari 2025 secara tahunan sebesar 0,09 persen, bulanan 0,48 persen, dan year to date 1,24 persen. Meskipun deflasi sebagian disebabkan oleh diskon tarif listrik, deflasi juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, kelompok ini justru menyumbang inflasi menjelang Ramadan.
- Pada Februari 2024, kelompok pengeluaran ini menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,29 persen dan Maret 0,41 persen.
- Pada Februari 2023, kelompok ini menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,13 persen dan Maret 0,09 persen.
-
Penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR):
Indeks Penjualan Riil (IPR) yang mencerminkan tingkat penjualan eceran di kota-kota besar menunjukkan penurunan. Bank Indonesia (BI) memperkirakan IPR pada Februari 2025 merosot 0,5 persen secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi oleh jatuhnya penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 1,7 persen.
Pertumbuhan IPR telah melambat sejak 2017. Sebelum 2017, pertumbuhan IPR selalu double digit, tetapi sejak itu stagnan di bawah 5 persen. Perlambatan ini semakin dipertegas dengan melambatnya pertumbuhan penjualan sejumlah ritel besar, seperti Indomaret, Alfamart, Ramayana, dan Hypermarket.
-
Melambatnya Pertumbuhan Transaksi Belanja:
Pertumbuhan transaksi belanja menggunakan ATM, debit, dan kartu kredit juga menunjukkan perlambatan. Pertumbuhan nilai transaksi belanja menggunakan ATM dan kartu debit pada 2024 terkontraksi sangat dalam, yaitu 4 persen, dibandingkan 2023 yang masih tumbuh 8 persen. Angka ini bahkan lebih rendah dari periode sebelum pandemi Covid-19 (2016-2019) yang mencapai 11 persen.
Transaksi belanja menggunakan kartu kredit juga mengalami pelemahan. Pada 2024, nilai transaksi belanja menggunakan kartu kredit hanya tumbuh 8 persen, jauh di bawah periode 2023 yang mencatatkan pertumbuhan 26 persen.
-
Kontraksi Impor Bahan Konsumsi:
Data BPS menunjukkan bahwa impor barang konsumsi pada Februari 2025 menyentuh 1,47 miliar dollar AS, turun 10,61 persen dibandingkan impor bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan periode Februari 2024, impor jelang Ramadan 2025 jatuh lebih dalam.
-
Penurunan Jumlah Pemudik:
Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta orang, atau setara dengan 52 persen penduduk Indonesia. Proyeksi ini jauh di bawah jumlah pemudik pada 2024 yang mencapai 193,6 juta orang, menunjukkan penurunan sekitar 24 persen. Penurunan ini mengindikasikan adanya penurunan pendapatan yang dapat dibelanjakan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, sehingga mereka mengurungkan niat untuk mudik.
Kesimpulan
CORE Indonesia menegaskan bahwa data-data tersebut menguatkan dugaan adanya kejanggalan perilaku konsumsi rumah tangga menjelang Lebaran 2025. Fenomena ini, menurut CORE Indonesia, merupakan indikasi penurunan daya beli masyarakat yang perlu menjadi perhatian serius.