Dedikasi Tanpa Pamrih: Kisah Petugas Kebersihan Pelabuhan Ketapang di Balik Layar Kenyamanan

Kisah di Balik Kebersihan Pelabuhan Ketapang: Curahan Hati Sang Penjaga Kenyamanan

Pelabuhan Ketapang, gerbang utama yang menghubungkan Jawa dan Bali, dikenal sebagai salah satu pelabuhan yang bersih dan nyaman. Bagi para pelancong yang hendak menyeberang ke Pulau Dewata, kebersihan pelabuhan ini tentu menjadi kesan pertama yang positif. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik kebersihan tersebut, ada sosok-sosok pekerja keras yang tak kenal lelah menjaga kebersihan lingkungan pelabuhan. Salah satunya adalah Slamet, seorang koordinator tim kebersihan yang telah mengabdikan dirinya selama 17 tahun di Pelabuhan Ketapang.

Slamet dan timnya yang berjumlah sembilan orang bekerja keras setiap hari, selama 12 jam tanpa henti, demi memastikan setiap sudut pelabuhan tetap bersih dan terawat. Empat orang bertanggung jawab penuh atas kebersihan toilet, memastikan fasilitas vital ini selalu higienis dan bebas dari bau tak sedap. Sementara itu, enam orang lainnya bertugas membersihkan seluruh area pelabuhan, mulai dari ruang tunggu penumpang, area parkir, hingga dermaga. Mereka menyapu, mengepel, memungut sampah, dan melakukan berbagai tugas lainnya untuk menjaga kebersihan pelabuhan.

"Saya sudah bertugas selama 17 tahun di sini," ungkap Slamet dengan nada bangga. Baginya, Pelabuhan Ketapang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pelabuhan ini berkembang dari waktu ke waktu, dan ia merasa ikut bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan dan kenyamanannya.

Namun, di balik dedikasi dan kerja keras mereka, ada tantangan yang harus dihadapi. Slamet mengakui bahwa menjadi petugas kebersihan bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain fisik yang prima, mental yang kuat juga sangat dibutuhkan. Mereka harus tahan terhadap pandangan sebelah mata dan komentar-komentar negatif dari sebagian orang.

"Tantangan mental, tahu sendiri tugas kebersihan seperti apa. Selain itu, kewajiban kami adalah sigap, siap, dan rajin," jelas Slamet. Ia menceritakan bagaimana beberapa anggota timnya, terutama yang masih muda, kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari para penumpang yang sebaya dengan mereka. Meskipun mereka bekerja keras agar para penumpang dapat menikmati fasilitas yang bersih dan nyaman, masih saja ada yang memandang mereka rendah.

"Ironi memang. Kita sudah berusaha bikin penumpang nyaman, tapi kadang malah dipandang rendah," keluhnya.

Meski demikian, Slamet dan timnya tidak pernah patah semangat. Mereka memilih untuk tidak ambil pusing dengan perlakuan negatif tersebut dan tetap fokus pada tugas mereka. "Kita cuekin aja. Kita laksanakan tugas sesuai standar operasional prosedur," tegasnya.

Selain membersihkan area pelabuhan, mereka juga tak segan menegur para penumpang yang membuang sampah sembarangan. Slamet bersyukur karena kesadaran masyarakat akan kebersihan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Ia melihat bahwa semakin banyak penumpang yang mulai membuang sampah pada tempatnya.

"Tapi semakin ke sini, saya rasa tingkat kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya sedikit ada peningkatan," tuturnya.

Dengan adanya 58 tempat sampah yang tersebar di area pelabuhan serta pengangkutan sampah secara rutin, kebersihan pelabuhan semakin terjaga. Dalam seminggu, tim kebersihan bisa mengumpulkan hingga satu ton sampah, dengan sebagian besar berasal dari dalam kapal.

Slamet berharap agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kebersihan Pelabuhan Ketapang, demi kenyamanan bersama.

"Mari biasakan buang sampah pada tempatnya, ini juga untuk kenyamanan kita bersama," pesan Slamet dengan tulus.