Penyakit ASF di Sikka, NTT: 500 Babi Mati, 11 Kecamatan Terdampak, dan Ancaman Penyebaran yang Membahayakan
Wabah ASF di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur: Ancaman Serius bagi Peternak Babi
Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menghadapi wabah African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika yang semakin mengkhawatirkan. Data terbaru dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka menunjukkan angka kematian babi akibat penyakit ini telah mencapai angka yang signifikan, yakni 500 ekor sejak Oktober 2024 hingga awal Maret 2025. Kepala Dinas Pertanian, Yohanes Emil Satriawan, mengungkapkan keprihatinan atas perkembangan ini dan dampaknya terhadap perekonomian masyarakat, terutama para peternak babi di wilayah tersebut.
Penyebaran ASF telah meluas hingga 11 kecamatan di Kabupaten Sikka. Kecamatan Talibura menjadi daerah yang paling terdampak dengan jumlah kematian babi mencapai 207 ekor. Angka kematian yang signifikan juga tercatat di Kecamatan Alok Barat (115 ekor), Palue (85 ekor), dan beberapa kecamatan lainnya seperti yang tertera pada rincian berikut:
- Kecamatan Talibura: 207 ekor
- Kecamatan Alok Barat: 115 ekor
- Kecamatan Palue: 85 ekor
- Kecamatan Waiblama: 35 ekor
- Kecamatan Bola: 17 ekor
- Kecamatan Alok: 14 ekor
- Kecamatan Kangae: 10 ekor
- Kecamatan Nita: 7 ekor
- Kecamatan Koting: 5 ekor
- Kecamatan Magepanda: 3 ekor
- Kecamatan Alok Timur: 2 ekor
Satriawan menekankan bahwa angka tersebut kemungkinan hanya mewakili data yang dilaporkan, dan jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Ia memperkirakan ribuan babi lainnya mungkin telah mati namun tidak terlaporkan. Faktor utama yang menyebabkan meluasnya wabah ini, menurut Satriawan, adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya ASF dan kurangnya penerapan protokol kesehatan hewan.
Praktik-praktik yang membahayakan seperti menyembelih dan mengonsumsi babi yang sakit, bahkan menjualnya di pasar, serta membuang bangkai babi ke sungai, telah mempercepat penyebaran virus. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam upaya pengendalian wabah dan berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas, termasuk ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sikka pun mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika menemukan babi yang menunjukkan gejala penyakit ASF. Selain itu, langkah-langkah biosecurity yang ketat perlu diterapkan oleh para peternak untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan melindungi ternak mereka.
Upaya pengendalian wabah ASF di Sikka memerlukan kerja sama yang intensif antara pemerintah, petugas kesehatan hewan, dan seluruh masyarakat. Sosialisasi dan edukasi yang intensif terkait pencegahan dan pengendalian penyakit ini menjadi kunci untuk menekan angka kematian babi dan mencegah meluasnya wabah ke daerah lain di NTT. Pemerintah setempat diharapkan dapat memberikan dukungan yang lebih besar kepada peternak babi, termasuk pelatihan dan bantuan teknis dalam penerapan biosecurity yang tepat.