Turbulensi Pasar Keuangan: Rupiah Tertekan, Pemerintah Optimis Fondasi Ekonomi Solid
Rupiah Bergejolak di Tengah Ketidakpastian Global
Jakarta - Pasar keuangan Indonesia mengalami turbulensi dalam beberapa pekan terakhir, ditandai dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada Selasa, 18 Maret 2025, bahkan terjadi trading halt di Bursa Efek Indonesia (BEI) akibat penurunan tajam IHSG.
Rupiah sempat menyentuh level terendah sejak Juni 1998, mencapai Rp 16.640 per dolar AS pada Selasa, 25 Maret 2025, setelah mengalami penurunan 0,5 persen. Namun, mata uang Garuda menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada Rabu, 26 Maret 2025, dengan data Bloomberg menunjukkan penguatan sebesar 24 poin atau 0,14 persen, menutup perdagangan di level Rp 16.857 per dolar AS.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah
Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Ketidakpastian ekonomi di Amerika Serikat mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman (flight to quality), menyebabkan arus modal keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Dalam tiga bulan terakhir, tercatat penjualan bersih asing sebesar Rp 36,5 triliun.
Selain faktor eksternal, kebijakan domestik juga turut mempengaruhi sentimen pasar. Pengalihan saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada BPI Danantara menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor terkait tata kelola dan potensi dividen dari entitas baru tersebut. Penurunan realisasi penerimaan pajak pada Januari 2025 serta prediksi penurunan daya beli masyarakat menjelang Ramadhan dan Idul Fitri juga memperburuk sentimen pasar.
Bank Indonesia Menepis Kekhawatiran Krisis
Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan krisis finansial Asia pada tahun 1998. Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M Juhro, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah terjadi secara bertahap, berbeda dengan kejatuhan tajam pada tahun 1998. Saat itu, rupiah merosot drastis dari di bawah Rp 10.000 menjadi Rp 16.000 per dolar AS dalam waktu singkat.
Solikin meyakinkan bahwa kondisi ekonomi saat ini jauh lebih terkendali dibandingkan tahun 1998, dengan cadangan devisa mencapai 154,5 miliar dolar AS per akhir Februari 2025. Pada tahun 1998, cadangan devisa Indonesia hanya sekitar 20 miliar dolar AS. Selain itu, BI dan pemerintah telah memiliki mekanisme yang lebih kuat untuk mendeteksi dan memitigasi potensi kerentanan ekonomi.
Pemerintah Optimis dengan Fondasi Ekonomi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Ia menyoroti rebound IHSG setelah sempat melemah, yang didorong oleh keyakinan investor terhadap kinerja positif bank-bank pemerintah yang diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Airlangga meyakini bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tidak akan berlanjut secara terus-menerus. Implementasi kebijakan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) 100 persen di dalam negeri selama satu tahun, yang dimulai pada 1 Maret 2025, diharapkan dapat memperkuat fundamental ekonomi. Kebijakan ini menggantikan ketentuan sebelumnya yang hanya mewajibkan penempatan minimal 30 persen DHE sumber daya alam (SDA) dalam rekening khusus valuta asing selama minimal 3 bulan.
Faktor Pendukung Penguatan Rupiah
Airlangga menambahkan bahwa peningkatan nilai ekspor Indonesia dalam jangka menengah dan panjang, cadangan devisa yang kuat, serta surplus neraca perdagangan akan menjadi faktor pendukung penguatan rupiah. Ia mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar adalah hal yang wajar, tetapi menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid.
Faktor-faktor yang diyakini pemerintah akan memperkuat Rupiah:
- Peningkatan nilai ekspor Indonesia dalam jangka menengah dan panjang
- Cadangan devisa yang kuat
- Surplus neraca perdagangan
- Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE)