Rindu Lapangan Tenis: Asha Bertemu Ayah di Solo Lewat Mudik Gratis Kompas.com
Jakarta – Kerinduan akan kampung halaman dan kebersamaan dengan keluarga mendorong Asha (21), seorang perantau di Jakarta Timur, untuk mudik ke Solo, Jawa Tengah. Namun, ada satu hal lagi yang membuatnya tak sabar untuk segera tiba di Solo: bermain tenis bersama sang ayah.
Di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (26/3/2025), Asha terlihat antusias menenteng raket tenis kesayangannya. Ia mengaku sudah hampir satu tahun tidak bertemu ayahnya dan berbagi kebahagiaan di lapangan tenis.
"Wah, kangen banget main tenis sama ayah," ujarnya dengan senyum lebar, sebelum menaiki kereta api.
Bagi Asha, tenis bukan sekadar olahraga, melainkan sebuah tradisi dan momen berharga untuk mempererat hubungan dengan sang ayah. Sejak kecil, ia sering menghabiskan waktu bersama ayahnya dengan bermain tenis. "Jadi, kalau enggak main sama bapak kaya kurang aja gitu. Paling enggak setahun sekali bisa main," ungkapnya.
Tahun ini, Asha memiliki pengalaman mudik yang berbeda. Jika biasanya ia pulang ke Solo dengan mobil pribadi bersama kakak-kakaknya, kali ini ia memilih mengikuti program mudik gratis yang diselenggarakan oleh Kompas.com. Ia merasa sangat bersyukur bisa mudik secara cuma-cuma dengan fasilitas kereta api kelas eksekutif.
"Kalau dari segi biaya lumayan. Kalau naik kendaraan pribadi jauh lebih banyak mulai dari tol, bensin, itu sekitar hampir Rp juta," jelas Asha, menggarisbawahi manfaat ekonomis dari mudik gratis ini.
Mudik gratis Kompas.com memberangkatkan 50 pembaca setia dari berbagai daerah di Jakarta menggunakan kereta api Argo Semeru kelas eksekutif. Kereta tersebut berangkat dari Stasiun Gambir pukul 06.20 WIB dan akan berhenti di sejumlah stasiun, termasuk:
- Cirebon
- Purwokerto
- Kroya
- Kebumen
- Kutoarjo
- Yogyakarta
- Solo Balapan
- Madiun
- Nganjuk
- Kertosono
- Jombang
- Mojokerto
- Gubeng (Surabaya)
Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin, menjelaskan bahwa program mudik gratis ini merupakan wujud apresiasi kepada pembaca setia. Pemilihan kereta api sebagai moda transportasi didasarkan pada faktor ketepatan waktu dan keberlanjutan lingkungan.
"Harapannya, bukan sekadar perjalanan saja. Ini adalah perjalanan yang mungkin bisa mempererat silaturahmi, bisa merefleksikan diri bahwa kita bagian Kompas.com karena sebagai pembaca setia," kata Amir.
Selama perjalanan, para pemudik juga akan dihibur dengan berbagai permainan dan hadiah menarik. Mudik gratis ini diharapkan tidak hanya mempermudah perjalanan pulang kampung, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antar pembaca setia Kompas.com.