IHSG Menguat Terbatas di Tengah Pelemahan Rupiah dan Sentimen Global
IHSG Menguat di Awal Sesi, Rupiah Tertekan Sentimen Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan hari ini dengan catatan positif, namun Rupiah harus berjuang di tengah tekanan sentimen global. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (25/3/2025) dibuka dengan IHSG yang berada di zona hijau, sementara Rupiah mengalami pelemahan terhadap Dolar AS di pasar spot.
Pergerakan IHSG dan Sentimen Pasar
Pada pukul 09.02 WIB, IHSG tercatat berada di posisi 6.230,68, naik sebesar 69,46 poin atau 1,13 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 6.197,98. Data perdagangan menunjukkan bahwa 225 saham mengalami kenaikan harga, sementara 101 saham mengalami penurunan, dan 192 saham stagnan. Nilai transaksi yang tercatat hingga saat ini mencapai Rp 591,65 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 389,50 juta saham.
Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa pasar masih merasakan tekanan akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump, terutama terkait rencana pengumuman tarif impor mobil dalam waktu dekat. Meskipun Trump memberikan indikasi adanya keringanan tarif untuk beberapa negara, ketidakjelasan ini tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor dan pelaku pasar.
"Kebijakan tarif Trump, meskipun digunakan sebagai alat negosiasi, memiliki dampak berlapis yang perlu diwaspadai," ujar Nico.
Secara teknikal, Pilarmas Investindo Sekuritas memprediksi IHSG berpotensi mengalami penguatan terbatas dengan level support dan resistance masing-masing di 5.950 dan 6.380.
Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menambahkan bahwa IHSG saat ini membentuk pola ending diagonal yang ditandai dengan volatilitas tinggi. Pola ini mengindikasikan potensi rebound agresif setelah mencatatkan lower low. Level resisten penting yang perlu dilewati IHSG untuk mengonfirmasi pembalikan tren adalah 6.319. Ivan juga menyebutkan level support IHSG berada di 5.947, 5.749, 5.644, dan 5.485, sementara level resistennya di 6.319, 6.445, 6.557, dan 6.663. Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish.
Kondisi Bursa Regional
Bursa saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Berikut adalah rinciannya:
- Strait Times (Singapura): Naik 0,94 persen ke level 3.973,44
- Shanghai Composite (China): Stagnan di level 3.370,12
- Nikkei 225 (Jepang): Naik 1,28 persen ke level 38.091,50
- Hang Seng (Hong Kong): Turun 1,43 persen ke level 23.5633,00
Pelemahan Rupiah dan Faktor Pendorong
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS di pasar spot pagi ini mengalami pelemahan. Data Bloomberg menunjukkan bahwa pada pukul 09.15 WIB, Rupiah berada di level Rp 16.627,5 per Dolar AS, melemah 60 poin atau 0,36 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.567,5 per Dolar AS.
Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa Rupiah masih berada di bawah tekanan terhadap Dolar AS. Indeks Dolar AS terus menguat, berada di kisaran 104,30-an pagi ini, dibandingkan dengan kisaran 104,10 pada pagi sebelumnya. Pasar masih mengantisipasi dampak negatif dari kebijakan kenaikan tarif yang akan diberlakukan oleh Presiden Trump pada 2 April. Selain itu, konflik baru di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran di pasar.
Dari dalam negeri, kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik juga memberikan tekanan pada Rupiah. Pesimisme pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri tercermin dalam pergerakan indeks saham BEI.
"Potensi pelemahan Rupiah hari ini mengarah ke level tertinggi di sekitar 16.590 dan mungkin berpotensi menembus ke atas 16.600, dengan potensi support di sekitar 16.500," pungkas Ariston.