Jeffrey Sachs: Sang Arsitek Pembangunan Berkelanjutan Gabung Dewan Penasihat Danantara
Jeffrey Sachs: Optimisme dan Tantangan dalam Pembangunan Berkelanjutan
Pengumuman penunjukan Jeffrey Sachs sebagai anggota Dewan Penasihat Danantara oleh CEO Rosan Roeslani di Jakarta pada Senin, 24 Maret 2025, membawa angin segar bagi upaya pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Sachs, seorang ekonom terkemuka dunia yang dikenal luas sebagai "arsitek kebijakan global", telah mendedikasikan karirnya untuk mengatasi tantangan pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang.
Kehadiran Sachs di Danantara bukan hanya sekadar formalitas. Pengalamannya selama lebih dari empat dekade sebagai penasihat ekonomi untuk berbagai negara dan lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menjadikannya aset berharga. Kiprahnya dalam merumuskan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, yang menjadi panduan global dalam mencapai pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, membuktikan komitmennya terhadap masa depan yang lebih baik bagi semua.
Jejak Karir Gemilang Seorang Ekonom Visioner
Lahir di Detroit, Michigan, pada tahun 1954, perjalanan intelektual Jeffrey Sachs dimulai di Harvard University, di mana ia meraih gelar sarjana dan doktor di bidang ekonomi. Kejeniusannya di bidang ekonomi membawanya menjadi profesor penuh di Harvard pada usia 28 tahun, menjadikannya salah satu profesor termuda dalam sejarah universitas tersebut. Sachs memulai karirnya sebagai akademisi, namun kontribusinya yang paling signifikan muncul ketika ia terjun langsung sebagai penasihat ekonomi bagi negara-negara berkembang yang menghadapi krisis.
Salah satu keberhasilan awalnya adalah membantu Bolivia mengatasi hiperinflasi pada awal 1980-an. Melalui rekomendasi kebijakan yang tepat, Sachs berhasil menurunkan laju inflasi dari 24.000 persen menjadi stabil dalam waktu singkat. Keberhasilan ini membuka pintu baginya untuk terlibat dalam proses transisi ekonomi Polandia dari ekonomi terpusat menuju pasar bebas setelah runtuhnya komunisme. Peran Sachs sebagai arsitek "terapi kejut" (shock therapy) dalam mempercepat liberalisasi ekonomi Polandia di awal 1990-an menuai pujian sekaligus kritik. Meskipun pendekatan ini dianggap kontroversial karena dampak sosialnya, banyak ekonom mengakui bahwa Sachs berhasil mempercepat pemulihan ekonomi Polandia.
Kiprah internasional Sachs semakin menanjak ketika ia menjadi penasihat khusus untuk tiga Sekretaris Jenderal PBB berturut-turut: Kofi Annan, Ban Ki-moon, dan Antonio Guterres. Ia berperan penting dalam perumusan dan implementasi Millennium Development Goals (MDGs) dan SDGs, yang menjadi kerangka kerja global untuk mengatasi masalah-masalah mendesak seperti kemiskinan, kelaparan, dan perubahan iklim. Selain itu, Sachs juga menjabat sebagai Direktur Earth Institute di Columbia University dan saat ini menjabat sebagai Presiden UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN).
Pandangan Ekonomi dan Kontroversi
Sachs dikenal sebagai pendukung ekonomi Keynesian, yang menekankan peran pemerintah dan lembaga internasional dalam memerangi kemiskinan ekstrem dan meningkatkan kesejahteraan global. Ia meyakini bahwa investasi besar dalam kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar adalah kunci untuk keluar dari kemiskinan.
Namun, beberapa kebijakannya, terutama saat menerapkan "terapi kejut" di Rusia dan Eropa Timur, menuai kritik tajam. Sejumlah ekonom berpendapat bahwa pendekatan tersebut memperburuk ketimpangan sosial dan mempercepat krisis sosial-politik di beberapa negara. Sachs sendiri mengakui bahwa ada pelajaran penting yang dapat dipetik dari pengalaman tersebut. Dalam bukunya, "The End of Poverty", ia menekankan pentingnya menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial dalam pembangunan berkelanjutan.
Buku ini menjadi landasan bagi banyak program pengentasan kemiskinan di Afrika dan Asia, termasuk Millennium Villages Project (MVP), yang bertujuan meningkatkan standar hidup masyarakat pedesaan melalui intervensi terpadu di bidang pertanian, pendidikan, dan kesehatan.
Harapan Baru Bersama Danantara
Dengan bergabungnya Jeffrey Sachs ke Dewan Penasihat Danantara, diharapkan lembaga ini akan semakin mampu memberikan kontribusi signifikan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Pengalaman dan keahlian Sachs akan menjadi panduan berharga dalam merumuskan kebijakan dan program yang efektif untuk mengatasi tantangan-tantangan kompleks yang dihadapi Indonesia, seperti kemiskinan, kesenjangan, dan kerusakan lingkungan.
Penunjukan Sachs ini bukan hanya sekadar berita baik bagi Danantara, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia yang mendambakan masa depan yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.