Pemkot Depok Genjot Solusi Sampah: Target Tuntas dalam 12 Bulan
Depok Berupaya Atasi Krisis Sampah dalam Setahun
Pemerintah Kota Depok mengambil langkah cepat untuk mengatasi permasalahan sampah yang semakin mendesak. Wali Kota Depok, Supian Suri, menargetkan solusi komprehensif dapat diimplementasikan dalam kurun waktu satu tahun. Penegasan ini disampaikan usai rapat koordinasi bersama 28 perwakilan Unit Pengolahan Sampah (UPS) di Depok, menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menanggapi isu krusial ini.
"Kita tidak punya banyak waktu. Solusi untuk masalah sampah ini harus segera ditemukan," tegas Supian Suri di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, Jumat (21/3/2025), usai meninjau langsung kondisi TPA yang memprihatinkan.
Kondisi TPA Cipayung yang sudah melebihi kapasitas menjadi perhatian utama. Gunungan sampah yang terus bertambah, bahkan meluber hingga ke Kali Pesanggrahan, memicu kekhawatiran akan dampak lingkungan yang lebih luas. Wali Kota Supian Suri menyadari bahwa situasi ini tidak hanya menjadi masalah internal Kota Depok, tetapi juga berpotensi mencemari wilayah Jakarta melalui aliran Kali Pesanggrahan.
"Kami tidak ingin keberadaan Depok justru menambah beban dan mencemari Jakarta. Ini adalah hal yang ingin kami hindari," ujarnya.
Untuk mencapai target penyelesaian masalah sampah dalam setahun, Pemkot Depok telah menyiapkan serangkaian strategi pengelolaan sampah yang inovatif dan berkelanjutan. Fokus utama adalah mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA dengan mengoptimalkan pengolahan sampah di tingkat sumber.
Berikut adalah beberapa solusi yang akan diterapkan:
- Budidaya Maggot di Tingkat Kelurahan: Pemerintah akan mendorong budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik di tingkat kelurahan. Maggot, larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF), memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik dengan cepat dan efisien. Hasil budidaya maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang bernilai ekonomis.
- Optimalisasi Bank Sampah: Peran bank sampah akan dioptimalkan untuk memaksimalkan nilai ekonomis dari sampah yang dapat didaur ulang. Masyarakat akan didorong untuk memilah sampah dari rumah dan menyetorkannya ke bank sampah. Bank sampah kemudian akan menjual sampah yang telah dipilah ke industri daur ulang.
- Pemanfaatan Residu Insinerator: Jika penggunaan insinerator masih memungkinkan, residu hasil pembakaran sampah akan dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan conblock, genteng, dan aspal. Hal ini bertujuan untuk mengurangi limbah dan menghasilkan produk yang bermanfaat bagi pembangunan infrastruktur.
- Pengolahan Sampah Terpadu: Pemerintah Kota Depok juga akan menjajaki penggunaan teknologi pengolahan sampah terpadu yang lebih modern dan ramah lingkungan. Teknologi ini diharapkan dapat mengolah berbagai jenis sampah dengan efisien dan menghasilkan energi atau produk sampingan yang bernilai ekonomi.
Wali Kota Supian Suri menekankan bahwa Pemkot Depok terbuka terhadap berbagai alternatif pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. "Jika ada alternatif pengelolaan sampah lain yang lebih baik dari insinerator, kami akan mempertimbangkannya," pungkasnya. Komitmen ini menunjukkan fleksibilitas dan kesiapan Pemkot Depok untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan inovasi di bidang pengelolaan sampah demi mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat bagi seluruh warga.
Dengan serangkaian strategi yang telah disiapkan dan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah, Kota Depok optimis dapat mengatasi krisis sampah dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan dalam waktu satu tahun ke depan.