BRGM Rampungkan Misi: Jutaan Hektar Gambut dan Puluhan Ribu Mangrove Kembali Pulih

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Akhiri Tugas dengan Catatan Gemilang

Setelah sembilan tahun berkiprah sejak 2016, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mengakhiri masa tugasnya pada 24 Maret 2025. Meskipun belum ada kepastian perpanjangan Peraturan Presiden (Perpres), BRGM telah menorehkan sejumlah pencapaian signifikan dalam upaya restorasi ekosistem gambut dan mangrove di Indonesia. Lembaga ini berhasil memulihkan ekosistem gambut seluas 1,6 juta hektar di luar kawasan konsesi dan merehabilitasi 84.396 hektar hutan mangrove yang tersebar di berbagai wilayah.

Penurunan Kebakaran Lahan Gambut yang Signifikan

Deputi Bidang Perencanaan dan Evaluasi BRGM, Tris Raditian, mengungkapkan dampak positif dari restorasi gambut yang telah dilakukan. Menurutnya, upaya restorasi ini berkontribusi besar dalam menekan angka kebakaran hutan dan lahan gambut. "Melalui berbagai intervensi restorasi, kami berhasil menekan potensi kebakaran lahan gambut hingga 29,59 persen," ujar Tris Raditian. Penurunan ini merupakan pencapaian penting mengingat kebakaran lahan gambut merupakan salah satu sumber utama emisi karbon dan kabut asap yang merugikan.

Infrastruktur Restorasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Selain restorasi lahan secara langsung, BRGM juga membangun 22.349 unit Infrastruktur Restorasi Gambut (IRG). Infrastruktur ini meliputi sumur bor untuk menjaga kelembaban gambut, sekat kanal untuk mengatur tata air, dan kanal timbun untuk memulihkan hidrologi lahan gambut. BRGM juga menggandeng masyarakat lokal dalam upaya pelestarian lingkungan dengan membentuk 1.185 Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) dan Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem lahan basah.

Dampak Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat

Program restorasi gambut dan mangrove yang dijalankan BRGM tidak hanya berdampak positif pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. BRGM telah memberdayakan 102.000 kepala keluarga dalam kegiatan restorasi gambut dan melibatkan 41.352 orang dalam rehabilitasi mangrove. Selain itu, sebanyak 2.992 kelompok masyarakat mendapatkan pendampingan dalam pelaksanaan rehabilitasi mangrove, sehingga dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Melalui program-program ini, sebanyak 1.413 unit usaha masyarakat gambut berhasil terbentuk, mendukung produksi pangan desa dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Secara ekonomi, BRGM telah menyalurkan 2,3 juta Hari Orang Kerja (HOK) dalam bentuk upah kepada masyarakat untuk kegiatan restorasi gambut, serta 4,5 juta HOK upah untuk rehabilitasi mangrove. Inisiatif ini memberikan dampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah restorasi. Salah satu program unggulan BRGM adalah penanaman sagu serentak di Provinsi Riau sebagai bagian dari upaya revegetasi lahan gambut dan mendukung ketahanan pangan lokal.

Proses Likuidasi dan Harapan untuk Keberlanjutan

Saat ini, BRGM sedang dalam proses likuidasi, menyelesaikan aset dan kewajiban kepada kementerian terkait. Kepala BRGM, Hartono Prawiraatmadja, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung upaya restorasi lahan basah selama ini. "Kami berterima kasih kepada seluruh mitra kerja, baik dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, NGO, akademisi, hingga masyarakat di tingkat tapak," ujarnya.

Hartono Prawiraatmadja menekankan bahwa restorasi ekosistem gambut dan mangrove bukanlah pekerjaan yang selesai dalam waktu singkat. Upaya ini membutuhkan konsistensi serta pendekatan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan, terutama di daerah pelosok dan perbatasan. Ia berharap upaya restorasi ini terus berlanjut untuk menekan angka kebakaran lahan, mencegah pelepasan karbon, serta menjaga wilayah teritori laut Indonesia.

"Restorasi gambut dan mangrove harus terus dilanjutkan agar menjadi faktor penting dalam mencapai target FOLU Net Sink 2030 dan strategi jangka panjang ketahanan iklim rendah karbon sesuai dengan Paris Agreement 2050," pungkas Hartono. Dengan berakhirnya masa tugas BRGM, diharapkan program-program restorasi yang telah berjalan dapat dilanjutkan oleh pihak-pihak terkait demi menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.