Darülfünun: Cikal Bakal Universitas Modern Islam dan Tantangan Modernisasi di Era Ottoman

Darülfünun: Cikal Bakal Universitas Modern Islam dan Tantangan Modernisasi di Era Ottoman

Perdebatan mengenai kampus tertua di dunia Islam seringkali menyorot Al-Qarawiyyin di Fez dan Al-Azhar di Kairo. Namun, Profesor Malik R Dahlan dari Middle East Institute, National University of Singapore (NUS), mengarahkan perhatian kita pada sebuah institusi yang berperan krusial dalam membentuk model universitas modern Islam: Darülfünun, cikal bakal Universitas Istanbul. Buku The House of Sciences: The First Modern University in the Muslim World karya Profesor Ekmeleddin Ihsanoglu, yang diulas Dahlan, mengungkap proses panjang dan penuh tantangan dalam membangun institusi ini di tengah dinamika politik dan intelektual Kesultanan Ottoman pada abad ke-19.

Proses kelahiran Darülfünun bukanlah hal yang mudah. Reformasi ambisius tahun 1839 di bawah Kesultanan Ottoman bertujuan untuk mentransformasi lembaga-lembaga kekaisaran, termasuk membangun universitas modern yang terstruktur dan mengatur diri sendiri, meniru model universitas Eropa. Tujuannya mulia: memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan negara, serta meletakkan dasar bagi pendekatan yang lebih birokratis, sekuler, dan terspesialisasi terhadap pengetahuan. Namun, tantangan yang dihadapi sangat besar. Pada masa-masa awal, Darülfünun mengalami kekurangan dosen, mahasiswa, literatur ilmiah dalam bahasa dan alfabet yang tepat, dan dana yang terbatas. Keberhasilannya, menurut Ihsanoglu, bergantung pada dedikasi dua administrator Ottoman, Âlî Pasha dan Fuad Pasha, yang secara aktif mensponsori kuliah umum dan mendatangkan peralatan ilmiah dari Eropa.

Kurikulum Darülfünun juga mengalami evolusi. Awalnya, integrasi antara konsep kebudayaan Islam dan ilmu-ilmu seperti matematika dan astronomi mengalami hambatan. Namun, Fuad Pasha berupaya menjembatani kesenjangan ini dengan menekankan bahwa 'filsafat alam' juga merupakan 'filsafat ketuhanan', menunjukkan upaya untuk menyelaraskan pengetahuan sekuler dengan nilai-nilai keagamaan. Setelah tahun 1870, kurikulum Darülfünun mulai mengadopsi versi modifikasi kurikulum universitas Prancis, menandai pergeseran yang signifikan dalam pendekatan pengajaran dan penelitian.

Sukses Darülfünun tidak hanya terbatas pada perkembangan internal. Institusi ini berperan penting dalam menyebarkan gagasan universitas modern ke luar Kesultanan Ottoman, menjangkau wilayah seperti Persia dan Afghanistan. Hal ini diperkuat oleh kontribusi guru-guru muda Ottoman yang mampu menyebarkan modernisasi Eropa dengan sentuhan khas Ottoman. Keberhasilan ini juga berkaitan erat dengan proyek infrastruktur seperti jalur kereta api Hijaz dan jaringan telegraf yang menghubungkan berbagai wilayah dalam kesultanan. Hal ini menunjukkan dampak Darülfünun tidak hanya dalam dunia akademik, tetapi juga dalam pembangunan nasional.

Kesimpulannya, kisah Darülfünun lebih dari sekadar sejarah berdirinya sebuah universitas. Ini adalah narasi tentang upaya modernisasi di era Ottoman, tantangan yang dihadapi, dan pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan tinggi di dunia Islam. Buku Ihsanoglu memberikan perspektif baru mengenai pemahaman konvensional mengenai kemerosotan Utsmaniyah dan peran kaum intelektual dalam mengatasi tantangan tersebut. Kisah Darülfünun merupakan pelajaran berharga tentang proses panjang dan kompleks dalam membangun sebuah institusi pendidikan modern di tengah perubahan politik, sosial, dan intelektual yang signifikan.