Dinar Candy Mengalami Gangguan Kesehatan Mental, Akui Tak Siap Berkomitmen dalam Hubungan

Dinar Candy Alami Gangguan Kesehatan Mental dan Mengakui Kesiapannya yang Belum Matang dalam Hubungan

Penyanyi dan DJ terkenal, Dinar Candy, baru-baru ini mengejutkan publik dengan pengakuannya mengenai permasalahan kesehatan mental yang tengah dialaminya. Dalam wawancara eksklusif di Studio Rumpi No Secret Trans TV pada Senin (3 Maret 2025), Dinar secara terbuka berbagi tentang perjalanannya menghadapi tantangan ini. Ia menjelaskan bahwa saat ini tengah fokus pada pemulihan kesehatannya, mengatakan, "Saya sedang memperbaiki mental, mengatasi masalah kesehatan mental. Saya memang sedang menghadapi masalah kesehatan mental," ujarnya dengan nada tenang namun jujur.

Sebagai bagian dari proses penyembuhan, Dinar mengungkapkan perubahan signifikan dalam interaksinya dengan orang lain, terutama di lingkungan pekerjaannya di industri hiburan. Ia memilih untuk membatasi kontak sosial, menjelaskan, "Tadi saat syuting, tim kreatif meminta saya ke ruang rias terlebih dahulu, tapi saya memilih langsung syuting dari mobil agar tidak bertemu banyak orang. Saya memang sedang tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang, lebih memilih untuk menyendiri." Sikap ini, diakui Dinar, menimbulkan kebingungan tersendiri baginya. "Saya jadi tidak banyak bicara, rasanya seperti ada yang tidak beres, kesehatan mental saya memang tidak dalam kondisi baik," tambahnya.

Dinar Candy secara gamblang mengaitkan permasalahan kesehatan mentalnya dengan hubungan asmara yang baru saja kandas. Hubungan tersebut, yang melibatkan Ko Apex, dirasakannya terlalu dipaksakan dan tidak sesuai dengan kesiapan emosinya. Ia mengakui kesalahannya, mengatakan, "Penyebabnya adalah hubungan saya sebelumnya. Ternyata saya belum siap untuk memiliki pasangan. Itu kesalahan saya." Lebih lanjut, ia menjelaskan tekanan dari keluarga sebagai faktor yang turut memengaruhi kondisinya. Usia 31 tahun, yang dianggap cukup matang untuk menikah, membuatnya merasa tertekan untuk menjalin hubungan, meskipun secara emosional ia belum merasa siap.

"Apalagi sekarang umur saya sudah 31 tahun. Saya memaksakan diri untuk punya pasangan karena keluarga terus menanyakannya ketika saya tidak memiliki pasangan," ungkap Dinar, menggarisbawahi tekanan sosial yang dihadapinya. Pengakuan jujurnya ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi banyak orang untuk memprioritaskan kesehatan mental dan menghindari tekanan sosial yang dapat berdampak buruk pada kesejahteraan emosional.

Dinar Candy's terbuka tentang perjuangannya ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak individu untuk berbicara tentang kesehatan mental mereka dan mencari bantuan yang dibutuhkan. Pernyataan ini juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sosial yang memahami dan menghargai proses pemulihan kesehatan mental seseorang. Dengan demikian, diharapkan kasus seperti yang dialami Dinar Candy dapat menjadi contoh bahwa mengakui dan mengatasi permasalahan kesehatan mental adalah langkah berani dan penting menuju pemulihan yang lebih baik.