Anjloknya IHSG: Momentum Investasi di Sektor Energi Baru Terbarukan?
Anjloknya IHSG: Momentum Investasi di Sektor Energi Baru Terbarukan?
Penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa, 18 Maret 2025, yang memaksa penutupan sementara perdagangan di Bursa Efek Indonesia, memicu beragam analisis. Di tengah kekhawatiran pasar modal, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, justru melihat peluang investasi yang menjanjikan di sektor energi baru terbarukan (EBT). Menurutnya, koreksi pasar saham ini dapat menjadi katalis bagi peningkatan investasi di sektor yang dinilai vital untuk transisi energi global.
Bhima menjelaskan bahwa terbatasnya perusahaan EBT yang terdaftar di bursa saham, dikombinasikan dengan proyek-proyek EBT yang berkelanjutan, menciptakan kondisi unik. “Meskipun sentimen pasar negatif, proyek-proyek EBT tetap berjalan,” tegas Bhima. Ia mencontohkan tren serupa yang terjadi selama pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Investasi EBT justru meningkat hingga 9 persen atau senilai 501 miliar dolar AS dibandingkan tahun 2019, menunjukkan resiliensi sektor ini terhadap guncangan ekonomi global.
Meskipun mengakui potensi keterlambatan proyek akibat koreksi pasar, Bhima menekankan bahwa komitmen global terhadap transisi energi dan penggantian energi fosil, khususnya batu bara di Indonesia, akan tetap mendorong investasi di sektor EBT dalam jangka panjang. Hal ini, menurutnya, menjadikan penurunan IHSG sebagai peluang bagi investor yang memiliki visi jangka panjang dan memahami potensi pertumbuhan sektor EBT.
Menarik Minat Investasi Timur Tengah
Lebih lanjut, Bhima menyoroti potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Qatar, dan Oman. Negara-negara tersebut, menurutnya, memiliki potensi besar untuk berinvestasi di sektor EBT Indonesia. Bhima merekomendasikan pembentukan tim khusus yang terdiri dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Investasi/BKPM untuk memaksimalkan peluang ini.
Tim khusus ini, lanjut Bhima, akan berperan penting dalam menganalisis pasar, mengidentifikasi perusahaan EBT yang potensial, dan memastikan regulasi serta kebijakan Indonesia mendukung kebutuhan investor. “Pertumbuhan ekonomi Timur Tengah diprediksi tetap stabil hingga 2026, berbeda dengan Amerika Serikat dan Tiongkok yang mengalami penurunan outlook ekonomi. Hal ini membuat Timur Tengah relatif kurang terpengaruh oleh gejolak IHSG dan berpotensi lebih tertarik pada investasi EBT,” papar Bhima.
Pembentukan tim khusus tersebut dinilai krusial untuk memastikan keberhasilan menarik investasi dari Timur Tengah dan mendorong percepatan pengembangan EBT di Indonesia. Dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan yang kondusif, Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi di sektor energi terbarukan yang berkelanjutan.
Keberhasilan upaya ini akan bergantung pada:
- Efektivitas tim khusus dalam mengidentifikasi dan menargetkan investor potensial.
- Kualitas regulasi dan kebijakan yang mendukung investasi di sektor EBT.
- Kemampuan Indonesia untuk menunjukkan komitmen yang kuat terhadap transisi energi.
- Stabilitas ekonomi makro Indonesia yang dapat meyakinkan investor asing.
- Ketersediaan infrastruktur yang memadai untuk mendukung proyek-proyek EBT.