IHSG Anjlok Hampir 4 Persen, BEI Terpaksa Hentikan Sementara Perdagangan

IHSG Anjlok Tajam, BEI Lakukan Trading Halt

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diwarnai aksi jual besar-besaran pada Selasa (18/3/2025), mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambles drastis. Penurunan mencapai 248,55 poin atau 3,84 persen, mengakhiri sesi perdagangan di level 6.223,38. Ini merupakan titik terendah IHSG dalam tiga tahun terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Sejak awal perdagangan, IHSG sudah menunjukkan tren negatif yang signifikan. Tekanan jual yang intensif menyebabkan IHSG menyentuh titik terendah intraday di level 6.011,84 pada sesi pertama. Kondisi ini memaksa otoritas BEI untuk mengambil langkah darurat dengan memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 11.19 WIB. Keputusan ini diambil setelah IHSG mengalami penurunan lebih dari 5 persen, menunjukkan tingkat kepanikan yang cukup tinggi di pasar.

Setelah periode trading halt, perdagangan dibuka kembali pukul 13.40 WIB. IHSG menunjukkan sedikit pemulihan, namun tetap berada di zona merah. Meskipun sempat bergerak menuju level 6.153 setelah berada di level 6.046 pada pukul 11.49 WIB, pergerakan positif ini tidak cukup untuk mencegah penurunan signifikan di akhir sesi perdagangan.

Pergerakan Saham dan Transaksi:

Data RTI mencatat kontras yang tajam antara saham yang menguat dan melemah. Sebanyak 554 saham berada di zona merah, sementara hanya 118 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan. 139 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 19,23 triliun dengan volume 29,34 miliar saham, menunjukkan tingginya aktivitas perdagangan meskipun di tengah kondisi pasar yang bergejolak.

Beberapa saham menjadi penekan utama IHSG, termasuk Barito Renewables Energy (BREN) yang turun 11,79 persen ke level 5.050, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang turun 3,92 persen ke level 3.680, dan Bank Central Asia (BBCA) yang turun 3,49 persen ke level 8.300. Di sisi lain, beberapa saham berhasil menahan penurunan indeks lebih dalam, seperti Sinar Terang Mandiri (MINE) yang naik 15,38 persen ke level 510, Solusi Sinergi Digital (WIFI) naik 4,41 persen ke level 1.775, dan Fortune Mate Indonesia (FMII) naik 24,73 persen ke level 464.

Kontras dengan Pasar Regional:

Menariknya, penurunan tajam IHSG berbanding terbalik dengan kinerja pasar saham regional yang cenderung positif. Indeks Shanghai Komposit naik 0,11 persen, Nikkei 225 naik 1,24 persen, Strait Times naik 0,82 persen, dan Hang Seng naik 2,46 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tekanan yang dialami IHSG mungkin lebih spesifik dan terkait dengan faktor domestik.

Pelemahan Rupiah:

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menunjukkan pelemahan, ditutup pada level Rp 16.428 per dolar AS, atau melemah 0,13 persen (22 poin) dibandingkan penutupan sebelumnya. Kurs tengah Jisdor juga mencatat pelemahan rupiah di level Rp 16.432 per dolar AS.

Anjloknya IHSG dan pelemahan rupiah menjadi sinyal peringatan bagi investor dan pemerintah untuk mencermati faktor-faktor yang mempengaruhi pasar domestik dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.