Yayasan Sudamala Bumi Insani Dorong Pengembangan SDM Sumba melalui Budaya dan Bahasa Inggris

Yayasan Sudamala Bumi Insani Dorong Pengembangan SDM Sumba melalui Budaya dan Bahasa Inggris

Inisiatif sosial dari Sudamala Resorts, Yayasan Sudamala Bumi Insani (YSBI), telah resmi memulai program pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi dengan dua lembaga lokal yang fokus pada pelestarian budaya dan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Waitabula menandai dimulainya kerja sama jangka panjang ini, menunjukkan komitmen YSBI untuk memberdayakan masyarakat Sumba secara berkelanjutan.

YSBI memberikan dukungan penuh kepada Rumah Seni dan Budaya Sumba, sebuah lembaga yang dipimpin oleh Pater Robert dan timnya. Lembaga ini telah berdedikasi dalam melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya lokal Sumba, menanamkan nilai-nilai budaya leluhur kepada generasi muda. Dukungan YSBI bertujuan untuk memperkuat peran Rumah Seni dan Budaya Sumba sebagai penjaga warisan budaya Sumba, memastikan kelangsungannya di tengah arus globalisasi. Lebih dari sekedar pelestarian artefak, YSBI mengakui pentingnya nilai-nilai budaya sebagai fondasi karakter dan moral bagi anak-anak Sumba, sekaligus membuka akses mereka pada pendidikan modern yang berkualitas.

Selain pelestarian budaya, YSBI juga menyadari pentingnya penguasaan bahasa Inggris dalam konteks perkembangan pariwisata di Sumba. Oleh karena itu, YSBI menjalin kerjasama dengan program English Goes to Kampung (EGK) yang diprakarsai oleh Asti Kulla dan timnya. EGK telah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris masyarakat lokal, khususnya anak-anak muda. Kerja sama ini mencakup dukungan finansial selama dua tahun ke depan untuk kegiatan pengajaran bahasa Inggris dan program turunannya yang menangani isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), masalah sosial yang masih menjadi tantangan di Sumba. Penguasaan bahasa Inggris diyakini akan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Sumba, terutama dalam sektor pariwisata yang berkembang pesat.

Ben Subrata, pendiri YSBI, menyatakan bahwa visi YSBI selaras dengan upaya untuk menjadikan seni dan budaya sebagai bagian integral dari identitas dan kebanggaan masyarakat Sumba. Ia menekankan pentingnya peran masyarakat Sumba, khususnya generasi muda, sebagai pelaku utama, bukan hanya penonton, dalam pembangunan pariwisata di daerahnya. Dengan dukungan YSBI, diharapkan program EGK akan semakin meluas jangkauannya dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Sumba. YSBI percaya bahwa pengembangan pariwisata di Sumba dan NTT secara keseluruhan harus dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat lokal agar pembangunan berkelanjutan dapat terwujud.

Asti Kulla, pendiri EGK, menambahkan bahwa pemberdayaan perempuan dan anak perempuan melalui budaya lokal, khususnya Karaja Sumba, merupakan langkah penting dalam mengatasi KDRT dan mendorong kemandirian ekonomi. Sejak 2015, EGK telah menjangkau lebih dari 8.000 anak dan pemuda di Sumba, membantu mereka membangun masa depan yang lebih cerah dan berdaya. Dukungan YSBI diharapkan dapat memperluas dampak positif program EGK ini.

YSBI berkomitmen untuk terus mendukung program-program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat Sumba, sejalan dengan visi yayasan dalam memberdayakan komunitas lokal untuk pembangunan berkelanjutan. Kerja sama ini merupakan contoh nyata bagaimana sektor swasta dapat berkolaborasi dengan lembaga lokal untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat.

Kesimpulan: Kolaborasi YSBI dengan Rumah Seni dan Budaya Sumba serta EGK merupakan langkah inovatif dalam pengembangan SDM di Sumba. Dengan mengintegrasikan pelestarian budaya dan peningkatan kemampuan berbahasa Inggris, YSBI membuka jalan bagi masyarakat Sumba untuk berperan aktif dalam pembangunan daerahnya sendiri, khususnya dalam sektor pariwisata yang menjanjikan.