Tren Lari di Jogja: Antara FOMO dan Gaya Hidup Sehat

Tren Lari di Jogja: Antara FOMO dan Gaya Hidup Sehat

Kota Yogyakarta, belakangan ini, menyaksikan peningkatan signifikan dalam popularitas olahraga lari. Fenomena ini menarik perhatian berbagai kalangan, terutama generasi Z, yang meresponnya dengan beragam persepsi. Sebagian melihatnya sebagai Fear Of Missing Out (FOMO) – takut tertinggal tren – sementara yang lain menekankan manfaat kesehatan dan gaya hidup aktif yang ditawarkan. Laporan ini menelusuri pandangan generasi muda Yogyakarta terhadap tren lari yang tengah berkembang.

Muhammad Egaskara Mahagnyanaputra (Egas, 24) dan Gani Dyasaputra Sriyono (Gani, 24), dua pelari yang aktif sejak awal 2025, berbagi perspektif mereka. Motivasi mereka berlari bukan semata-mata karena tren. Egas, yang terinspirasi dari latar belakang keluarganya sebagai atlet lari, mengatakan, “Alasan utama saya berlari adalah karena keluarga saya memiliki latar belakang sebagai atlet lari. Selain itu, lari sangat menyenangkan karena bermanfaat untuk kesehatan dan sekaligus sebagai program diet.” Sementara Gani, yang sebelumnya aktif dalam olahraga basket, menambahkan, “Saya memang suka olahraga. Namun, rutinitas kuliah dan pekerjaan di bidang FnB membuat jadwal tidur saya terganggu. Awal tahun lalu, seorang teman mengajak saya berlari, dan saya memutuskan untuk bergabung. Ini membantu saya mengatur pola tidur, sehingga saya lebih aktif di pagi hari dan bisa tidur lebih nyenyak di malam hari.”

Meskipun mengakui adanya faktor FOMO, khususnya di kalangan Gen Z Jogja, Egas dan Gani lebih menekankan dampak positifnya. Egas menjelaskan, “Saya tidak terlalu memikirkan FOMO. Justru saya melihatnya sebagai hal yang menyenangkan, dan jika bisa menginspirasi orang lain untuk ikut berlari, itu lebih baik lagi. Yang penting adalah dampak positifnya bagi kesehatan dan aktivitas fisik.” Gani senada menambahkan, “FOMO bisa dilihat dari sisi positif, karena mendorong kita untuk melakukan hal yang baik untuk tubuh. Yang terpenting adalah konsistensi.”

Namun, tren lari juga memunculkan isu lain, terutama terkait running gear. Gani mengamati, “Banyak yang menjadikan lari sebagai ajang memamerkan perlengkapan lari mereka. Hal ini memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, bisa meningkatkan semangat untuk membeli perlengkapan baru demi kenyamanan berlari. Namun, sisi negatifnya adalah potensi untuk mengeluarkan biaya berlebihan untuk hal-hal yang mungkin tidak terlalu penting. Lari sebenarnya olahraga yang murah. Yang terpenting adalah menyesuaikan pengeluaran dengan budget masing-masing. Jangan sampai hobi lari menjadi beban finansial.”

Terakhir, mengenai lokasi favorit berlari di Yogyakarta, Egas dan Gani sama-sama merekomendasikan wilayah utara kota, khususnya daerah Palagan. Gani menjelaskan, “Saya lebih suka berlari di Palagan, karena elevasi jalannya cukup tinggi, sehingga bagus untuk latihan lari menanjak.” Egas menambahkan, “Saya juga lebih menyukai Palagan karena udaranya sejuk dan lebih sedikit polusi udara dari kendaraan bermotor. Saya pribadi merasa kesulitan bernapas di tempat yang banyak asap kendaraan.”

Kesimpulannya, tren lari di Yogyakarta merupakan perpaduan antara tren sosial dan gaya hidup sehat. Meskipun FOMO menjadi salah satu faktor pendorong, manfaat kesehatan dan kesejahteraan tetap menjadi fokus utama bagi para pelari muda di kota ini. Pemilihan lokasi berlari pun mempertimbangkan aspek kenyamanan dan kualitas udara.