Semarang Raih Prestasi Inklusi Sosial, Dorong Pembangunan Berkelanjutan
Semarang Raih Prestasi Inklusi Sosial, Dorong Pembangunan Berkelanjutan
Pemerintah Kota Semarang berhasil meraih penghargaan bergengsi sebagai Kota Pionir Pembangunan Inklusi Sosial dari Setara Institute, sebuah lembaga kajian demokrasi dan perdamaian yang bekerja sama dengan INKLUSI, platform kemitraan Indonesia-Australia. Penghargaan ini diberikan dalam sebuah acara di Hotel Bidakara, Jakarta, pada tanggal 6 Maret 2025, dan diterima oleh Plt. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Semarang, Joko Hartono, mewakili Walikota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Pencapaian ini mencerminkan komitmen nyata Pemkot Semarang dalam membangun kota yang inklusif dan memberikan akses yang setara bagi seluruh warganya.
Walikota Agustina menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat dalam mewujudkan komitmen inklusi sosial ini, baik dalam perencanaan pembangunan, kebijakan daerah, maupun program kerja. Beliau menekankan bahwa penghargaan ini akan menjadi motivasi untuk terus berupaya mewujudkan visi Semarang sebagai kota yang benar-benar inklusif. Lebih lanjut, Walikota Agustina menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bukti nyata kualitas tata kelola pemerintahan kota yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak warga negara sesuai dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Penghargaan ini juga menjadi pengakuan atas upaya Semarang dalam menciptakan lingkungan yang adil dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat.
Penilaian dan Indikator Utama
Dalam penilaian yang dilakukan oleh Setara Institute, Kota Semarang berhasil meraih skor tertinggi, yaitu 3,6, sejajar dengan kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Denpasar, Padang, dan Jakarta Selatan. Penilaian tersebut didasarkan pada dua variabel utama. Pertama, variabel aspirasional, yang mencakup indikator hak atas:
- Kesehatan
- Pendidikan
- Ekonomi
- Keamanan pribadi
- Lingkungan layak
- Kebudayaan
- Pekerjaan yang layak
Kedua, variabel pendekatan, yang meliputi empat indikator utama:
- Rekognisi (pengakuan)
- Partisipasi
- Resiliensi (ketahanan)
- Akomodasi
Kedua variabel tersebut diterapkan pada empat kelompok utama masyarakat:
- Perempuan
- Penyandang disabilitas
- Minoritas agama
- Masyarakat adat
Indeks Inklusi Sosial Indonesia (IISI)
Penyerahan penghargaan ini bertepatan dengan peluncuran Indeks Inklusi Sosial Indonesia (IISI) oleh Setara Institute. IISI bertujuan untuk mengukur dan mengapresiasi kondisi inklusi sosial di tingkat nasional dan di 24 kabupaten/kota di Indonesia. Konsep inklusi sosial yang diukur dalam indeks ini menekankan pada kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk mendapatkan akomodasi, akses terhadap sumber daya, dan berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lingkungan. Prestasi Semarang dalam meraih skor tertinggi menunjukkan komitmen kuat kota ini untuk terus meningkatkan kualitas inklusivitas di segala bidang.
Langkah-langkah Ke Depan
Walikota Agustina menegaskan bahwa penghargaan ini akan semakin memacu Pemkot Semarang untuk mengintegrasikan prinsip inklusi sosial dalam setiap aspek pembangunan. Inklusivitas merupakan fokus utama pemerintahannya, dan penghargaan ini semakin memotivasi untuk menghadirkan lebih banyak ruang aksesibilitas dan memastikan layanan publik yang nyaman serta inklusif bagi semua warga tanpa diskriminasi. Upaya-upaya konkrit akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa setiap warga Semarang dapat menikmati hak-haknya dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan kota.