THR untuk Driver Ojol Surabaya: Harapan dan Ketidakpastian Jelang Lebaran
THR untuk Driver Ojol Surabaya: Harapan dan Ketidakpastian Jelang Lebaran
Jelang Hari Raya Idul Fitri, para pengemudi ojek online (ojol) di Surabaya menaruh harapan besar pada realisasi pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) oleh perusahaan aplikasi penyedia jasa. Meskipun kabar gembira tersebut telah beredar, namun sejumlah ketidakpastian masih membayangi para pekerja gig ini, menimbulkan beragam reaksi dan harapan di antara mereka. Kejelasan mengenai besaran THR dan cakupan penerima menjadi poin penting yang terus dipertanyakan.
Tri Novi (39), seorang driver ojol di wilayah Undaan, Genteng, Surabaya, misalnya, mengungkapkan kegembiraannya atas rencana pemberian THR tersebut. Namun, ia menekankan pentingnya pemerataan pembagian THR agar tidak memilah-milah pengemudi, khususnya mereka yang mungkin kurang aktif dalam beberapa bulan terakhir. "THR ini memang menguntungkan, tetapi sayang jika teman-teman driver yang kurang aktif tidak mendapatkannya," ungkap Tri saat diwawancarai. Pengalaman Tri beberapa tahun lalu menunjukkan pemberian THR yang cukup signifikan, berkisar 10 hingga 20 persen dari rata-rata pendapatan bersih bulanan selama 90 hari. Sistem perhitungan tersebut, menurutnya, tetap mempertimbangkan hari kerja meskipun terdapat hari libur. Namun, selama tiga tahun terakhir, THR tersebut digantikan dengan paket sembako yang isinya bervariasi setiap tahunnya, mulai dari beras, minyak goreng, mi instan, hingga uang tunai senilai Rp 50.000.
Ia berharap, THR tahun ini—yang dikabarkan mencapai 20 persen dari rata-rata pendapatan bersih selama 12 bulan terakhir—dapat mencukupi kebutuhan Lebaran. "Jumlah tersebut sudah cukup membantu untuk persiapan Lebaran," imbuhnya. Lain halnya dengan Djuanda (56), seorang driver ojol lainnya yang mengaku lebih hati-hati dalam menyikapi kabar tersebut. Ketidakpastian kapan realisasi THR diberikan membuatnya enggan berharap terlalu banyak. "Saya lebih baik tidak berharap banyak, tetapi semoga program ini benar-benar terealisasi," ujarnya dengan nada was-was.
Sejak bergabung sebagai driver ojol pada 2017, Djuanda mengaku belum pernah menerima bantuan atau insentif dari perusahaan aplikasi selain bonus yang didapat dengan memenuhi target poin tertentu. Namun, saat ini ia mengaku tidak terlalu mengejar bonus-bonus tersebut lagi, berkat dukungan ekonomi dari istrinya. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur jika THR benar-benar diberikan, berapapun nominalnya. "Berapapun jumlahnya, saya bersyukur. Lebih baik ada daripada tidak ada," katanya sembari tertawa. Beragam harapan dan keraguan ini menggambarkan kompleksitas situasi yang dialami para driver ojol di Surabaya dalam menghadapi momen Lebaran. Kejelasan informasi dan transparansi dari pihak penyedia aplikasi sangat diperlukan untuk meredakan kekhawatiran dan memastikan bahwa THR ini benar-benar menjadi berkah bagi mereka yang telah bekerja keras sepanjang tahun.
Berikut poin-poin penting yang dirangkum dari pernyataan para driver ojol:
- Harapan akan realisasi THR yang merata dan adil kepada semua driver ojol.
- Pengalaman pemberian THR di tahun-tahun sebelumnya yang bervariasi, mulai dari uang tunai hingga paket sembako.
- Harapan akan besaran THR yang cukup untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.
- Ketidakpastian dan kekhawatiran terkait realisasi program THR yang belum pasti.
- Perbedaan pengalaman para driver ojol dalam menerima insentif atau bonus dari perusahaan aplikasi.