Arus Mudik Kalimantan Timur: Sungai Mahakam Jadi Alternatif Utama Jelang Lebaran
Arus Mudik Kalimantan Timur: Sungai Mahakam Jadi Alternatif Utama Jelang Lebaran
Jelang Lebaran Idul Fitri 1446 H/2025 M, aktivitas di Pelabuhan Mahakam Ulu, Samarinda, Kalimantan Timur, menunjukkan peningkatan signifikan. Bukan hanya lalu lintas barang, tetapi juga penumpang kapal yang memilih jalur sungai sebagai alternatif mudik. Kondisi ini mencerminkan peran vital Sungai Mahakam sebagai urat nadi transportasi di wilayah tersebut, terutama ketika infrastruktur jalan darat masih menyisakan sejumlah kendala.
Kepala Bidang Keselamatan Dinas Perhubungan Kota Samarinda, V Hari Prabowo, mengungkapkan peningkatan mobilitas masyarakat ke hulu Sungai Mahakam telah terlihat beberapa pekan sebelum Lebaran. Lonjakan ini didorong oleh kebutuhan untuk menjamin ketersediaan bahan pokok di daerah tujuan. Para pedagang, sebagai salah satu kelompok penumpang utama, telah mulai mengantisipasi potensi kelangkaan bahan pangan dengan memanfaatkan jalur sungai.
Berdasarkan pantauan di Dermaga Mahakam Ulu pada Kamis, 13 Maret 2025, setidaknya dua kapal telah berangkat dengan muatan yang cukup padat namun tetap berada dalam batas aman. Kedua kapal tersebut telah menjalani pemeriksaan keselamatan, meliputi pengecekan ketersediaan jaket pelampung, pelampung cincin, dan alat pemadam api ringan. Semua dinyatakan memenuhi standar keselamatan pelayaran.
- KM Karya Utama 77F: Menuju Melak, Kutai Barat, dengan 52 penumpang dan 16 kendaraan roda dua.
- KM Dahliya F3: Menuju Long Bagun, dengan 14 penumpang dan 40 ton barang.
Aulia Rahman, seorang penumpang KM Karya Utama 77F tujuan Melak, mengungkapkan alasan memilih transportasi sungai. Menurutnya, perjalanan melalui sungai lebih nyaman dan santai dibandingkan melalui darat. Biaya perjalanan pun dinilai lebih terjangkau, yakni Rp 180.000 per orang (belum termasuk biaya angkut kendaraan). Kondisi jalan darat menuju Melak yang rusak, terutama saat hujan, menjadi faktor utama pilihannya.
"Jalan darat masih rusak di beberapa titik, jadi lebih nyaman naik kapal kalau ingin santai," ujar Aulia. Perjalanan laut Samarinda-Melak memang memakan waktu sekitar 18 jam, berangkat pagi dan tiba dini hari. Namun, bagi Aulia dan penumpang lain yang terbiasa, waktu tempuh yang lebih panjang tersebut terbayar dengan kenyamanan dan biaya yang lebih hemat dibandingkan transportasi darat.
Meskipun waktu tempuh lebih lama, pilihan transportasi sungai tetap diminati karena menawarkan kenyamanan dan harga yang relatif terjangkau. Hal ini menunjukkan bahwa Sungai Mahakam masih menjadi andalan bagi masyarakat Kalimantan Timur dalam memenuhi kebutuhan mobilitas, khususnya menjelang hari besar keagamaan seperti Lebaran. Ke depan, peningkatan infrastruktur jalan darat diharapkan dapat menjadi solusi untuk menunjang konektivitas wilayah secara lebih optimal dan memberikan alternatif pilihan transportasi yang setara bagi masyarakat.