PSI Menanggapi Kritik PDIP Terkait Keterbukaan Partai

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan tanggapan terhadap pernyataan politikus PDI Perjuangan (PDIP), Aria Bima, terkait dengan keterbukaan partai tersebut. Kritik dilontarkan terkait potensi penunjukan mantan Presiden Joko Widodo sebagai Ketua Dewan Pembina PSI, serta posisi Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum.

Ketua DPP PSI, Cheryl Tanzil, menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan oleh Aria Bima. Menurutnya, sebagai partai yang relatif muda, PSI akan menanggapi serius setiap masukan yang konstruktif, termasuk dari partai senior seperti PDIP.

"Kami berterima kasih atas perhatian dan masukan yang diberikan oleh Mas Aria Bima. PSI sebagai partai yang masih muda akan terus belajar dan berbenah diri," ujar Cheryl kepada awak media.

Cheryl menekankan bahwa PSI berkomitmen untuk terus belajar dari berbagai partai politik, termasuk PDIP, mengenai bagaimana menjadi partai yang benar-benar terbuka. Ia menegaskan bahwa PSI telah menjalankan mekanisme pemilihan ketua umum melalui Pemilihan Raya (Pemira) secara elektronik (e-vote) dan Kongres, yang membuktikan komitmen mereka terhadap keterbukaan.

"Kami tidak hanya berencana menjadi partai terbuka, tetapi kami sudah menjadi partai terbuka. Buktinya adalah pelaksanaan Pemira melalui e-vote dan Kongres yang lalu," tegasnya.

Pernyataan Aria Bima sebelumnya menyoroti potensi kesan yang kurang terbuka jika Jokowi menduduki posisi Ketua Dewan Pembina dan Kaesang tetap sebagai Ketua Umum. Ia mempertanyakan bagaimana sebuah partai yang mengklaim diri super terbuka justru diisi oleh figur-figur yang terkesan eksklusif.

"Kalau partainya super terbuka, tapi Pak Jokowi jadi Ketua Dewan Pembina dan Mas Kaesang tetap Ketua Umum, kan kesannya jadi kurang go public. Katanya terbuka, tapi kok malah jadi partai domestik?" ujar Aria Bima.

Sebelumnya, Aria Bima menyampaikan penghormatannya terhadap Kongres PSI sebagai mitra PDIP dalam berdemokrasi. Ia menekankan pentingnya kualitas demokrasi yang ditopang oleh partai politik. Namun, ia juga menyoroti potensi inkonsistensi antara klaim keterbukaan PSI dengan struktur kepemimpinan yang ada.

Tanzil pun menanggapi bahwa PSI tetap akan solid dan terbuka, aspirasi dari kader akan terus diwadahi. PSI akan terus menjalankan nilai keterbukaan yang akan menjadi perhatian utama untuk kedepannya. Proses regenerasi di tubuh partai akan terus dijalankan untuk mencari kader yang berkualitas.

PSI akan berfokus dalam perbaikan internal, dengan melakukan evaluasi terhadap mekanisme dan struktur partai. Tujuannya adalah menciptakan partai yang lebih transparan, akuntabel, dan inklusif, dan untuk memastikan bahwa semua anggota partai memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Berikut adalah beberapa poin yang menjadi fokus PSI dalam upaya meningkatkan keterbukaan partai:

  • Peningkatan Partisipasi Anggota: Mendorong partisipasi aktif anggota dalam berbagai kegiatan partai, termasuk diskusi kebijakan, pelatihan, dan kegiatan sosial.
  • Transparansi Keuangan: Memastikan pengelolaan keuangan partai dilakukan secara transparan dan akuntabel, serta dapat diakses oleh seluruh anggota.
  • Penguatan Mekanisme Kontrol: Memperkuat mekanisme kontrol internal untuk mencegah penyalahgunaan wewenang dan memastikan bahwa semua tindakan partai sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi.
  • Evaluasi Berkala: Melakukan evaluasi berkala terhadap kinerja partai dan program-programnya, serta meminta masukan dari anggota dan masyarakat luas untuk perbaikan.

Dengan langkah-langkah ini, PSI berharap dapat menjadi partai yang benar-benar terbuka dan inklusif, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.