Pendangkalan Pelabuhan Baai, Ekonomi Pulau Enggano Merugi Miliaran Rupiah

Pulau Enggano, sebuah permata terpencil di Provinsi Bengkulu, kini tengah menghadapi tantangan ekonomi serius akibat pendangkalan Pelabuhan Baai. Kondisi ini telah melumpuhkan jalur distribusi hasil bumi dan laut, menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah setiap bulan.

Masyarakat Adat Pulau Enggano, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Menurut perhitungan mereka, sejak Maret 2025, aktivitas ekonomi utama pulau tersebut terhambat signifikan karena kapal-kapal pengangkut barang tidak dapat bersandar dengan aman di pelabuhan.

Fahmi Arisandi, Ketua AMAN Bengkulu, menjelaskan bahwa dampak pendangkalan pelabuhan sangat dirasakan oleh masyarakat adat dan para petani. Hasil panen seperti pisang, kelapa, melinjo, kakao, dan pinang menumpuk karena tidak dapat dipasarkan ke luar pulau. Begitu pula hasil tangkapan laut, yang sebagian besar berkualitas ekspor, terancam membusuk karena keterbatasan akses transportasi.

Berikut adalah rincian kerugian ekonomi yang dialami masyarakat Pulau Enggano setiap bulan:

  • Pisang: 672 ton (320.000 tandan) tidak terjual, dengan kerugian mencapai Rp 1,15 miliar.
  • Jantung Pisang: 560 karung tidak terjual, dengan kerugian mencapai Rp 33,5 juta.
  • Daun Pisang: 160 karung tidak terjual, dengan kerugian mencapai Rp 8 juta.
  • Ikan Laut: 32 ton tidak dapat diekspor, dengan kerugian mencapai Rp 640 juta.
  • Melinjo: 400 kg tidak terjual, dengan kerugian mencapai Rp 20 juta.
  • Kelapa: 32 ton tidak terjual, dengan kerugian mencapai Rp 72 juta.
  • Kakao: 500 kg tidak terjual, dengan kerugian mencapai Rp 40 juta.
  • Pinang: 3,2 ton tidak terjual, dengan kerugian mencapai Rp 25 juta.

Kondisi ini diperparah dengan menipisnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional listrik PLN di pulau tersebut. Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, menyatakan bahwa persediaan BBM hanya cukup untuk sekitar 17 hari ke depan. Meskipun pasokan bahan pokok masih dapat didistribusikan menggunakan kapal nelayan, solusi ini dinilai tidak ideal dan berkelanjutan.

Pemerintah daerah berupaya mengatasi masalah transportasi dengan mengandalkan kapal ASDP dengan sistem ship to ship, serta bantuan dari TNI AL dan Basarnas. Transportasi udara masih beroperasi normal, namun kapasitasnya terbatas dan tidak dapat menggantikan peran pelabuhan dalam mengangkut barang dalam jumlah besar.

Bupati Arie Septia Adinata mengungkapkan bahwa uji coba alur Pelabuhan Pulau Baai yang telah dikeruk akan dilakukan pada tanggal 23–25 Juni 2025. Namun, belum ada kepastian kapan normalisasi pelayaran logistik hasil bumi dari Pulau Enggano dapat terwujud. Masyarakat pulau sangat berharap agar pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah pendangkalan pelabuhan dan memulihkan perekonomian mereka.