Talenta Siber dari Sampit: Kisah Inspiratif Peretas Etis yang Mendunia
Di tengah gemerlap dunia cyber security, muncul sebuah nama yang bersinar terang, Rahmadhani Novian Jaya, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Dhani. Pemuda berusia 21 tahun asal Sampit, Kalimantan Tengah, ini telah membuktikan bahwa keahlian teknologi tidak terbatas pada kota-kota besar. Prestasinya yang membanggakan sebagai Top 10 Google Bug Hunter di Indonesia, menjadi bukti nyata dedikasinya dalam menjaga keamanan dunia maya.
Keahlian Dhani dalam menemukan dan melaporkan kerentanan (bug) pada sistem Google patut diacungi jempol. Salah satu temuannya yang signifikan adalah terkait keamanan Client Side bagi para pengguna Google. Kerentanan ini, jika tidak segera ditangani, berpotensi dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk mengambil alih akun pengguna atau mencuri informasi pribadi yang sensitif. Dhani menjelaskan bahwa ia menemukan kerentanan Cross-Site Scripting (XSS) dan Bypass Content Security Policy (CSP) yang dapat dimanfaatkan untuk menyisipkan kode berbahaya ke dalam sistem Google, sehingga meningkatkan risiko bagi penggunanya.
Berkat kontribusinya yang berharga dalam meningkatkan keamanan platform Google, Dhani telah menerima penghargaan dengan total nilai mencapai Rp 170 juta. Penghargaan terakhir yang ia terima sebesar 3.137 dolar AS (sekitar Rp 51 juta) menyusul penghargaan sebelumnya pada bulan Maret 2025 senilai 7.500 dolar AS (sekitar Rp 120 juta).
Prestasi Dhani tidak hanya terbatas di Indonesia. Dari 1.723 peserta dari seluruh dunia, ia berhasil menduduki peringkat 288 secara global. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang pemuda dari kota kecil.
Sebelumnya, pada tahun 2019, Dhani juga sempat menggemparkan dunia cyber security dengan berhasil menemukan kerentanan pada situs web NASA. Ia menemukan celah keamanan berupa cross-site scripting (XSS) yang memungkinkan penyisipan kode berbahaya yang dapat mengubah tampilan situs atau mencuri data pengguna. Sayangnya, laporan yang ia kirimkan ke NASA tidak mendapatkan tanggapan. Namun, ia tetap mendokumentasikan temuannya tersebut dalam sebuah unggahan blog di Medium.
Kisah Dhani tidak hanya berhenti pada pencapaian di tingkat global. Saat masih berstatus sebagai siswa SMK Negeri 2 Sampit, ia pernah membuat heboh dengan membobol sistem ujian berbasis Computer-Based Test (CBT) sekolahnya. Dhani menemukan kerentanan yang memungkinkannya untuk mengunggah backdoor, mengakses dashboard admin, melihat soal, jawaban, dan seluruh data ujian.
Namun, alih-alih mendapatkan hukuman, Dhani justru mendapatkan dukungan dari wali kelasnya yang melihat potensi besar dalam dirinya. Ia diarahkan untuk menggunakan keahliannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Ketertarikan Dhani pada dunia hacking bermula sejak ia masih duduk di bangku SMP. Ia terinspirasi oleh film-film hacker yang penuh aksi. Dhani belajar secara otodidak, karena pada saat itu belum ada komunitas keamanan siber di Sampit. Dengan tekad yang kuat, ia kemudian mendirikan komunitas bernama BorneoSec sebagai wadah bagi dirinya dan teman-teman untuk belajar bersama tentang cara menemukan dan melaporkan kerentanan sistem.
Dari sebuah komunitas kecil, BorneoSec kini telah bertransformasi menjadi sebuah perusahaan yang fokus pada penetration testing dan membantu berbagai organisasi dalam mengamankan sistem mereka. Selain itu, Dhani juga bekerja penuh waktu sebagai IT security di eDOT.id, anak perusahaan Nabati Group, secara remote dari Sampit.
Dhani mengakui bahwa tantangan di dunia siber sangatlah dinamis. Teknologi terus berkembang dengan pesat, sehingga ia harus selalu proaktif, melakukan eksplorasi, dan terus belajar. Ia juga menyinggung stigma negatif yang seringkali melekat pada sosok hacker. Dhani menjelaskan bahwa terdapat dua jenis hacker, yaitu white hat (peretas etis) yang bekerja secara legal untuk membantu perusahaan, dan black hat (peretas jahat) yang melakukan perusakan untuk kepentingan pribadi.
Dukungan dari orang tua Dhani menjadi salah satu faktor penting dalam kesuksesannya. Awalnya, mereka tidak mengetahui aktivitas Dhani di depan laptop. Namun, setelah melihat berita tentang prestasinya, mereka memberikan dukungan penuh. Saat ini, Dhani masih menempuh pendidikan di Universitas Darwan Ali Sampit, Kalimantan Tengah, mengambil jurusan Manajemen.
Dhani memiliki mimpi besar untuk menjadikan BorneoSec sebagai perusahaan cyber security nomor satu di Indonesia. Ia ingin membuktikan bahwa talenta dari Kalimantan juga mampu bersaing di kancah global. Ia juga berpesan kepada anak muda di daerah agar tidak berkecil hati dan terus menggali potensi diri. Dhani mengajak mereka untuk memanfaatkan internet sebagai sarana eksplorasi dan mencari tempat di mana potensi mereka dapat dihargai.