Pelindo Tingkatkan Kesadaran Lingkungan Pelajar Melalui Pengelolaan Limbah Jaring di Kalibaru
Pelindo Edukasi Pelajar Kalibaru Tentang Pengelolaan Limbah Laut
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menggencarkan upaya peningkatan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda, khususnya terkait permasalahan limbah laut. Salah satu langkahnya adalah melalui program edukasi bertema ghost net, yang menyasar para siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 53 Kalibaru, Jakarta Utara.
Inisiatif ini bertujuan untuk memperkenalkan model pengelolaan limbah jaring bekas secara berkelanjutan kepada para pelajar. Program ini sekaligus menekankan pentingnya menjaga ekosistem laut dari ancaman ghost net, yaitu jaring ikan bekas yang dibuang ke laut dan menjadi salah satu penyebab utama pencemaran laut.
Febrianto Zenny, Department Head Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelindo, mengungkapkan bahwa para siswa diberikan pemahaman mendalam tentang isu pencemaran laut yang disebabkan oleh ghost net. Jaring-jaring ini sangat berbahaya karena sulit terurai dan dapat menjebak berbagai biota laut selama bertahun-tahun. Selain menjelaskan dampaknya, para fasilitator juga memperagakan bagaimana limbah tersebut dapat diolah menjadi barang-barang yang memiliki nilai ekonomis, seperti meja, kursi, dan bahkan bahan dasar pondasi bangunan.
Menurut Febrianto, limbah jaring nelayan selama ini kurang mendapat perhatian dan sulit didaur ulang. Melalui program ini, para siswa diharapkan memahami bahwa pengelolaan limbah bukan hanya tentang menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir.
Program edukasi ghost net ini merupakan bagian dari proyek percontohan yang dijalankan Pelindo sejak akhir tahun 2024. Kalibaru dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki tingkat pencemaran laut yang relatif tinggi dan potensi komunitas yang aktif. Di wilayah ini, Pelindo juga aktif membina bank sampah di RW 06, mengadakan pelatihan bagi rumah tangga nelayan, dan memberikan edukasi lingkungan secara berkala kepada siswa sekolah.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 60 siswa kelas VII dan VIII, yang sebagian besar berasal dari keluarga nelayan di wilayah pesisir Kalibaru. Dalam pelaksanaannya, Pelindo bekerja sama dengan dua organisasi mitra, yaitu Parongpong RAW Lab dan Divers Clean Action, yang memiliki pengalaman dalam mengolah limbah laut dan melakukan kampanye edukasi lingkungan.
Febrianto menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari inovasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pelindo melalui kerjasama dengan startup lingkungan yang berfokus pada pengelolaan wilayah pesisir.
Bayu Widyafrasta, Planning & Managing Manager CSR Program Pelindo, menjelaskan bahwa hingga pertengahan Juni 2025, proyek pengumpulan ghost net di Kalibaru telah berhasil mengumpulkan sekitar 900 kilogram limbah jaring. Limbah ini kemudian diolah oleh Parongpong RAW Lab menggunakan teknologi Prototiles, dan hasilnya dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran di sekolah-sekolah, termasuk SMPN 53 Kalibaru.
Pelindo menargetkan pengumpulan hingga dua ton ghost net hingga akhir program tahun ini. Selain itu, perusahaan juga mendorong replikasi model ini di sejumlah kawasan pesisir lain di Indonesia. Upaya ini sejalan dengan misi Pelindo sebagai badan usaha milik negara yang tidak hanya berperan sebagai operator pelabuhan, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial dan lingkungan di wilayah operasionalnya.
Bayu menekankan bahwa solusi untuk masalah limbah laut tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan teknis. Perlu dimulai dari akar masalah, yaitu edukasi dan pemberdayaan komunitas. Pelindo berharap perubahan ini dapat dirasakan secara nyata dan memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.