Inflasi Jepang Meroket: Harga Beras Melonjak Drastis di Bulan Mei 2025

Lonjakan Harga Beras Memicu Inflasi di Jepang

Inflasi di Jepang mengalami lonjakan signifikan pada bulan Mei 2025, dengan harga beras mencatat kenaikan tahunan yang mencengangkan, mencapai 101,7 persen. Kenaikan ini melampaui angka inflasi bulan April yang tercatat sebesar 98 persen, memicu kekhawatiran di kalangan konsumen dan pembuat kebijakan.

Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi secara keseluruhan di Jepang naik sebesar 3,7 persen, menjadi yang tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir. Lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga beras yang signifikan, serta kenaikan harga bahan makanan lainnya. Kondisi ini telah mendorong indeks harga konsumen (IHK) Jepang ke level tertinggi sejak Januari 2023, setelah mengalami kenaikan sebesar 3,5 persen pada bulan April. Tingkat inflasi di Jepang terus berada di atas target Bank of Japan (BOJ) sebesar 2 persen sejak April 2022.

Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang melaporkan bahwa harga pangan, tidak termasuk produk segar, naik 7,7 persen, meningkat dari kenaikan 7,0 persen pada bulan April. Selain beras, beberapa komoditas lain juga mengalami kenaikan harga yang signifikan. Harga cokelat naik 27,1 persen, sementara harga biji kopi melonjak 28,2 persen.

Kendati demikian, harga makanan segar menunjukkan sedikit penurunan, yaitu sebesar 0,1 persen pada bulan Mei 2025.

Takeshi Minami, seorang ekonom terkemuka dari Norinchukin Research Institute, menjelaskan bahwa kenaikan harga beras yang lebih dari dua kali lipat terus menjadi pendorong utama kenaikan harga pangan secara keseluruhan. Menurutnya, stabilisasi harga makanan segar belum cukup untuk mengimbangi dampak kenaikan harga beras.

"Harga beras diperkirakan akan mengalami penurunan seiring dengan masuknya panen baru di musim gugur. Hal ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada harga konsumen," ujar Minami. Meskipun demikian, ia memperkirakan bahwa tren kenaikan harga beras masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Selain sektor pangan, harga energi juga mengalami kenaikan, meskipun sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada bulan Mei, harga energi naik 8,1 persen, melambat dari kenaikan 9,3 persen pada bulan April 2025.

Di antara komponen utama lainnya, harga barang tahan lama rumah tangga naik 3,8 persen, melambat dari 6,4 persen pada bulan April. Penurunan ini sebagian disebabkan oleh melemahnya permintaan AC.

Harga layanan, yang menjadi perhatian utama BOJ dalam menentukan kebijakan moneter karena mencerminkan kenaikan upah, naik 1,4 persen pada bulan Mei, dibandingkan dengan 1,3 persen pada bulan April. Kenaikan ini dipicu oleh kenaikan biaya makan di luar dan biaya perjalanan.

Lonjakan inflasi ini menyoroti tantangan yang dihadapi oleh perekonomian Jepang, terutama dalam hal stabilitas harga dan daya beli konsumen. Pemerintah dan Bank of Japan terus memantau situasi ini dengan cermat dan mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi dampak inflasi terhadap perekonomian.