Psikolog Ungkap Potensi Game Online dalam Membangun Kedekatan Orang Tua dan Remaja

Game Online: Jembatan Emas Kedekatan Orang Tua dan Remaja di Era Digital

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, game online telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Namun, seringkali game online dipandang sebelah mata, bahkan dianggap sebagai penghalang komunikasi antara orang tua dan anak. Padahal, jika dimanfaatkan dengan bijak, game online justru bisa menjadi jembatan emas untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua dan remaja.

Hal ini terungkap dalam acara "Garena Good Game" yang diselenggarakan oleh Garena Indonesia bersama SMK Pusdikhubad, Cimahi, Jawa Barat. Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dunia game online kepada para pelajar, serta menyoroti pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam menciptakan lingkungan bermain game yang positif.

Psikolog klinis anak dan remaja, Mischa Indah Mariska, yang menjadi narasumber utama dalam acara tersebut, menekankan bahwa game online dapat memberikan banyak manfaat positif, seperti melatih kerja sama tim, meningkatkan kemampuan berpikir strategis, dan mengendalikan emosi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa bermain game harus dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan.

Salah satu kunci utama dalam membangun kedekatan antara orang tua dan anak melalui game online adalah komunikasi. Orang tua perlu menunjukkan minat dan empati terhadap hobi anak mereka. Mischa menyarankan agar orang tua mencoba bertanya tentang game yang sedang dimainkan anak, level yang sudah dicapai, atau tantangan yang dihadapi di dalam permainan. Dengan begitu, anak akan merasa bahwa orang tuanya peduli dan tertarik dengan apa yang mereka lakukan.

Lebih jauh lagi, Mischa menganjurkan agar orang tua mencoba mengunduh dan memainkan game yang dimainkan anak mereka. Hal ini tidak hanya akan membantu orang tua memahami interaksi dan percakapan yang terjadi di dalam game, tetapi juga memberikan kesempatan untuk bermain bersama dan menciptakan momen-momen menyenangkan.

"Di situ, orang tua dan anak bisa sepakat tentang batas waktu bermain, misalnya satu jam per hari. Dengan begitu, orang tua tidak hanya mengatur, tetapi juga memberi contoh langsung," ujar Mischa.

Mischa juga mengapresiasi inovasi Garena Indonesia yang menghadirkan tokoh agama, Habib Ja’far, sebagai karakter di dalam game Free Fire. Ia menilai bahwa keberadaan tokoh tersebut dapat menjadi pengingat bagi pemain untuk tetap menjaga keseimbangan waktu bermain dan menjalankan ibadah.

E-sport: Sarana Pendidikan Karakter yang Efektif

Selain sebagai hiburan, game online juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter. Ronny Patria Sahiundaleng, Guru sekaligus Pembimbing Ekstrakurikuler e-Sport SMK Pusdikhubad, menjelaskan bahwa sekolahnya telah menjadikan e-sport sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sejak tahun 2023.

Menurut Ronny, e-sport dapat menanamkan nilai-nilai positif seperti sportivitas, kerja sama tim, kemampuan mengelola emosi, dan menyusun strategi. Ia juga menambahkan bahwa siswa yang aktif dalam kegiatan e-sport terbiasa menghadapi tantangan dan target, serta belajar untuk menerima kegagalan dan menyusun strategi baru.

"Saya selalu tekankan pentingnya kerja sama tim. Kalau ada teman yang kesulitan, harus saling membantu. Semangat ini secara tidak langsung terbawa dari game ke dunia nyata," kata Ronny.

Sinergi untuk Ekosistem Gaming yang Positif

Head of Business Development, Esports & Community Garena, Wijaya Nugroho, menegaskan komitmen pihaknya untuk membangun ekosistem gaming yang aman, positif, dan bertanggung jawab. Ia menyadari bahwa upaya ini tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, sekolah, hingga profesional seperti psikolog.

"Garena memahami pentingnya peran lingkungan sekitar dalam mendampingi anak bermain game dengan sehat dan bertanggung jawab. Melalui program ini, kami ingin mendorong dialog yang terbuka dan edukatif di lingkungan sekolah maupun keluarga," kata Wijaya.