Iran Berjuang di Tengah Konflik: Pembatasan Internet dan Solidaritas Warga

Pertempuran yang sedang berlangsung dengan Israel telah menyebabkan banyak wilayah di Iran mengalami gangguan akses internet yang signifikan. Bahkan panggilan telepon seluler dan sambungan telepon rumah seringkali terputus.

"Kami berada dalam situasi yang sangat mirip dengan perang," kata Pouria Nouri, seorang pembuat film dokumenter dan fotografer, kepada DW dari Teheran, ibu kota Iran. Ledakan terdengar di seluruh kota siang dan malam. Pangkalan militer dan infrastruktur strategis menjadi sasaran pengeboman, dan jumlah korban sipil terus meningkat. Serangan skala besar yang dilancarkan oleh militer Israel menargetkan Teheran dan wilayah lain di Iran dengan tujuan menghancurkan program nuklir Iran. Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke sejumlah kota di Israel.

Di Iran, internet dipandang dengan kecurigaan oleh otoritas keamanan, yang melihatnya sebagai ancaman dan berusaha untuk mengendalikannya. Menurut pakar keamanan siber Amir Rashidi, pemerintah Iran menggambarkan internet sebagai alat mata-mata Barat. Namun, warga Iran sangat membutuhkan akses internet, terutama sebagai sarana komunikasi untuk tetap berhubungan satu sama lain dan mendapatkan informasi tentang situasi terkini. Pembatasan akses internet oleh para pejabat sangat disayangkan, terutama pada saat konflik meningkat ketika masyarakat sangat membutuhkan informasi. Sementara itu, para profesional medis, petugas pemadam kebakaran, dan warga biasa menggunakan internet untuk membantu masyarakat sekitar mereka.

Selama bertahun-tahun, Amir Rashidi telah mempromosikan hak-hak digital dan masyarakat sipil di dunia digital. Upayanya tampaknya membuahkan hasil di Iran. Beberapa perusahaan rintisan Iran telah mulai menawarkan layanan mereka secara gratis, termasuk membantu orang mencari tempat tinggal di luar Teheran atau berbagi informasi tentang akses VPN untuk mengakses berita. Ada juga orang-orang yang menawarkan tumpangan bagi mereka yang ingin meninggalkan Teheran.

Pengguna internet lainnya, seperti fotografer dan penulis perjalanan Peyman Yazdani, menawarkan bantuan dengan cara lain. Melalui media sosial, dia menawarkan untuk membantu orang tua yang berada di Teheran yang membutuhkan bahan makanan atau kunjungan. Dokter juga telah membagikan nomor telepon mereka dan menawarkan konsultasi medis, resep, dan rekomendasi apotek di Teheran yang masih menyediakan obat-obatan tertentu.

Pembuat film Pouria Nouri mengatakan bahwa masih banyak orang tua dan penyandang disabilitas yang tinggal di Teheran. Di daerah miskin di selatan, banyak orang masih harus pergi bekerja. Petugas pemadam kebakaran membagikan foto diri mereka saat bertugas untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka akan tetap berada di kota. Meskipun konflik meningkat dan korban jiwa bertambah, tidak ada laporan tentang penjarahan atau kekacauan di jalan-jalan.

Namun, warga Iran juga menghadapi banjir informasi palsu secara daring. Beberapa orang mengklaim bahwa Israel mengendalikan aplikasi seperti WhatsApp atau Instagram, sementara yang lain mengatakan bahwa mengunduh aplikasi sederhana sudah cukup untuk menggunakan satelit Starlink untuk akses internet. Pakar keamanan siber Amir Rashidi memperingatkan bahwa mereka yang ingin menggunakan Starlink memerlukan parabola untuk terhubung ke jaringan. Aplikasi yang beredar secara daring bisa berbahaya dan digunakan untuk memata-matai orang. Banyak informasi yang tidak dapat diverifikasi juga beredar di kalangan warga Iran, termasuk klaim bahwa para pemimpin agama dan politik Republik Islam telah meninggalkan negara itu.

Penulis buku "Aktivisme Twitter di Iran" edisi 2025, Hossein Kermani, mengatakan bahwa situasi saat ini di ruang digital tidak dapat dibandingkan dengan krisis yang dialami oleh otoritas keamanan di masa lalu, termasuk protes nasional yang berulang. Tidak seperti protes domestik, Iran sekarang menghadapi krisis transnasional. Ini bukan lagi tentang mengendalikan populasi mereka sendiri, tetapi tentang menghadapi musuh eksternal. Aparat keamanan tampaknya kewalahan dan masih terkejut.

Pada saat yang sama, video propaganda tersebar di kalangan pendukung rezim, yang mencoba meremehkan serangan oleh militer Israel. Ulama dan ahli teori konspirasi Ali Akbar Raefipour memainkan peran kunci dalam upaya propaganda ini. Audiens target video tersebut adalah anggota sistem politik, yang moralnya tampaknya perlu ditingkatkan. Tujuannya adalah untuk memanipulasi secara psikologis dan membangkitkan kembali rasa percaya di kalangan anggota sistem pemerintahan, agar mereka tidak berpaling dari rezim, meskipun realitas yang dihadapi jauh berbeda.