Program Makanan Bergizi Gratis di Tangsel Tuai Sorotan: Orang Tua Keluhkan Dominasi Biskuit dalam Paket Bantuan
Gelombang kekecewaan muncul di kalangan orang tua murid sebuah Sekolah Dasar (SD) di Pondok Aren, Tangerang Selatan, terkait implementasi program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih mendapatkan asupan bergizi seimbang, paket MBG yang diterima justru didominasi oleh biskuit kemasan, memicu pertanyaan tentang efektivitas program dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak-anak.
Pada hari Kamis, 19 Juni 2025, para orang tua murid dikejutkan dengan isi goodie bag MBG yang dibagikan setelah pengambilan rapor. Paket tersebut berisi beragam makanan ringan, antara lain:
- Dua roti cokelat
- Satu kotak susu cokelat kemasan (115 ml)
- Satu saset minuman sereal rasa vanila
- Empat snack kentang
- Empat saset biskuit stick mini
- Tiga saset biskuit kelapa
- Tiga kacang atom
- Satu kacang kulit
- Tiga buah jeruk Medan
- Satu buah pisang
Ketidakpuasan orang tua berakar pada harapan awal mereka terhadap program MBG. Merina, seorang wali murid, mengungkapkan kekagetannya, "Saya sempat kaget sih dapetnya makanan ringan, soalnya kan dari awal dapatnya makanan bergizi dan matang, ada sayur juga." Ia menekankan pentingnya makanan berat yang mengandung nasi, sayur, dan lauk pauk untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Senada dengan Merina, Novi, orang tua murid lainnya, berpendapat bahwa MBG seharusnya menghadirkan menu yang lebih mengenyangkan dan sesuai dengan prinsip gizi seimbang, bukan hanya sekadar makanan ringan. "Lebih baik yang matang, karena empat sehat lima sempurna, ada nasi, lauk, sayur, susu, dan buah," ujarnya. Meskipun ia mengakui bahwa anak-anak cenderung menyukai camilan, Novi menekankan perlunya makanan yang lebih bergizi dan berkualitas.
Pihak sekolah menjelaskan bahwa paket MBG yang didominasi biskuit tersebut dimaksudkan untuk dikonsumsi selama dua hari dan hanya bersifat sementara. Mereka menjanjikan bahwa siswa akan kembali menerima makanan lengkap saat kegiatan belajar mengajar berjalan normal.
Terlepas dari penjelasan tersebut, para orang tua tetap berharap agar pemerintah dan penyelenggara program MBG dapat memperbaiki isi dan sistem distribusi makanan. Mereka menekankan pentingnya memperhatikan rasa dan kualitas makanan agar anak-anak tidak kehilangan minat dan benar-benar mendapatkan manfaat dari program ini. Novi menambahkan, "Kalau dapat MBG, terutama rasa, jangan asal-asalan. Anak-anak kurang suka, jadi masak untuk anak yang enaklah."
Kekecewaan orang tua murid mencerminkan pentingnya evaluasi dan peningkatan berkelanjutan dalam program-program bantuan pangan. Kualitas nutrisi, variasi menu, dan preferensi anak-anak harus menjadi pertimbangan utama agar program MBG dapat mencapai tujuannya secara efektif dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan generasi muda.