Kontroversi Gaya Hidup Miliarder: Saran Buang Makanan Picu Kecaman Publik
Gaya Hidup Kontroversial Miliarder Bryan Johnson Kembali Menuai Sorotan
Miliarder dan biohacker asal California, Bryan Johnson, kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait saran diet yang ia unggah melalui platform X. Dalam cuitannya, Johnson menyarankan pengikutnya untuk membuang makanan jika tidak merasa lapar, sebuah pernyataan yang langsung memicu gelombang kecaman dan perdebatan.
Saran Johnson, yang dikenal dengan proyek ambisiusnya melawan penuaan (Project Blueprint), dianggap tidak sensitif terhadap kondisi ekonomi global saat ini. Banyak warganet yang mengecamnya karena dinilai mengabaikan masalah kelaparan yang masih menjadi isu serius di berbagai negara. Selain itu, beberapa pihak juga mengkhawatirkan bahwa pernyataan tersebut dapat memicu atau memperburuk gangguan makan seperti anoreksia.
"Membuang makanan di tengah situasi ekonomi seperti ini? Sungguh tidak sensitif," tulis seorang warganet mengomentari cuitan Johnson.
Kritik pedas juga datang dari berbagai kalangan yang menilai bahwa saran tersebut tidak realistis dan berpotensi membahayakan kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki masalah ekonomi atau riwayat gangguan makan.
Rutinitas Ekstrem Bryan Johnson dalam Menjalankan Project Blueprint
Bryan Johnson dikenal luas karena dedikasinya yang ekstrem dalam upaya menunda penuaan. Melalui Project Blueprint, ia menerapkan rutinitas yang sangat ketat, mulai dari pola makan hingga kebiasaan tidur. Johnson bangun setiap hari pukul 05.00 pagi dan tidur pukul 20.30 malam. Pola makannya pun sangat terbatas, hanya mengonsumsi makanan vegan dengan total 2.000 kalori per hari. Menu hariannya didominasi oleh sayuran seperti brokoli dan kembang kol, kacang kenari, serta puluhan suplemen.
Selain pola makan dan tidur yang teratur, Johnson juga melakukan berbagai perawatan medis eksperimental, termasuk transfusi plasma darah dari putranya. Meskipun metode ini sempat menuai kontroversi, Johnson kemudian beralih ke metode yang lebih canggih yang disebut total plasma exchange, yaitu prosedur penggantian seluruh plasma darah dengan larutan albumin dan imunoglobulin.
Ambisi Panjang Umur dan Kontroversi yang Menyertainya
Johnson memiliki ambisi besar untuk memperpanjang harapan hidup manusia hingga melampaui usia 120 tahun. Ia mengklaim bahwa upaya yang dilakukannya telah berhasil membuat jantungnya berfungsi seperti jantung berusia 37 tahun, kulitnya seperti kulit berusia 28 tahun, dan kebugaran fisiknya setara dengan remaja berusia 18 tahun.
Untuk mewujudkan visinya, Johnson juga aktif mengadakan konferensi bertajuk "Don't Die" yang mempromosikan gaya hidup anti-penuaan. Ia bahkan menyebut "Don't Die" sebagai agama barunya.
Meski demikian, upaya Johnson ini tidak luput dari kritik dan kontroversi. Banyak yang mempertanyakan efektivitas dan etika dari metode yang ia gunakan. Namun, Johnson tetap teguh dengan keyakinannya dan terus berupaya untuk mencapai tujuannya, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan dan penolakan dari masyarakat.