SPMB DKI Jakarta 2025: Orang Tua Mengeluhkan Kendala Pendataan di Posko Pengaduan
Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) DKI Jakarta tahun 2025 diwarnai keluhan dari sejumlah orang tua terkait masalah pendataan. Posko pengaduan SPMB yang berlokasi di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta menjadi tujuan utama para orang tua yang mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.
SPMB DKI Jakarta 2025, yang mencakup jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK, memberikan kesempatan bagi calon peserta didik untuk memilih jalur pendaftaran yang sesuai. Namun, proses seleksi tahun ini tidak terlepas dari kendala yang membuat orang tua merasa kebingungan. Beberapa dari mereka memutuskan untuk mendatangi langsung Posko SPMB DKI Jakarta guna mendapatkan bantuan dan kejelasan terkait masalah yang dihadapi.
Salah satu orang tua, Lisa, mengungkapkan keinginannya untuk mendaftarkan putranya, Muhammad Nizam Santoso, ke SMP swasta melalui program Kartu Jakarta Pintar (KJP). Lisa berharap program SPMB Bersama dapat memfasilitasi pendidikan gratis bagi putranya di sekolah swasta, dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Namun, Lisa mendapati kendala ketika data anaknya tidak terdeteksi dalam sistem SPMB.
"Datanya nggak kebaca. Jadi di DTKS diterima KJP. Tapi di sini nggak bisa. Jadi nggak bisa daftar di yang bersama," jelas Lisa, mengungkapkan kekecewaannya.
Lisa mengaku telah berupaya mencari solusi dengan mendatangi Kepala Suku Dinas Pendidikan (Kasudin). Namun, ia kemudian diarahkan untuk melakukan pemadanan data di Posko SPMB DKI Jakarta.
Permasalahan serupa juga dialami oleh Dewi, ibunda dari Azka. Dewi menjelaskan bahwa pihak sekolah lalai memasukkan data prestasi taekwondo anaknya ke dalam sistem. Akibatnya, nilai Azka belum mengalami penambahan, padahal ia telah meraih juara 1 dalam kompetisi taekwondo tingkat nasional.
"Hari Senin saya udah ke sini dioper ke lantai 10. Di lantai 10 katanya saya jangan daftar dulu sampe nilai berubah. Ternyata sampai hari ini, tadi pagi, ngga berubah juga. Sedangkan hari ini terakhir pendaftaran," keluh Dewi, merasa frustrasi dengan situasi yang dihadapinya.
Dewi menyayangkan kelalaian pihak sekolah yang tidak memasukkan data prestasi anaknya. Ia berharap ada solusi agar nilai Azka dapat diperbarui sehingga ia dapat mengikuti seleksi dengan adil.