Tragedi Cuci Darah: Pasien Gagal Ginjal di India Meninggal Akibat Pemadaman Listrik dan Kelalaian Rumah Sakit
Insiden Tragis Menimpa Pasien Dialisis di India
Seorang pria muda berusia 26 tahun bernama Sarfaraz Ahmad, asal desa Phulsanda, India, menghembuskan nafas terakhir saat menjalani prosedur dialisis di sebuah rumah sakit setempat. Kematian tragis ini diduga kuat disebabkan oleh pemadaman listrik yang diperparah dengan kelalaian pihak rumah sakit dalam menyediakan bahan bakar untuk generator cadangan.
Menurut laporan, saat pemadaman terjadi, mesin dialisis yang sedang digunakan Sarfaraz tiba-tiba berhenti beroperasi. Keluarga pasien menuturkan bahwa staf rumah sakit tidak dapat segera mengatasi situasi karena perusahaan yang bertanggung jawab atas pasokan solar untuk generator tidak mengirimkan bahan bakar yang dibutuhkan. Ibu Sarfaraz dengan pilu menceritakan bagaimana ia memohon kepada staf rumah sakit untuk segera menyalakan generator, namun usahanya sia-sia.
Inspeksi mendadak yang dilakukan oleh Kepala Departemen Perawatan Kesehatan, Purna Borah, mengungkap kondisi memprihatinkan di rumah sakit tersebut. Selain Sarfaraz, ditemukan lima pasien lain yang terbaring tanpa penerangan maupun ventilasi akibat pemadaman listrik. Temuan ini semakin memperkuat dugaan adanya kelalaian serius dari pihak pengelola rumah sakit.
Kontroversi Jumlah Darah yang Tertahan di Mesin Dialisis
Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah darah yang tertahan di dalam mesin dialisis saat kejadian. Keluarga pasien mengklaim bahwa hampir separuh darah Sarfaraz terjebak di mesin, namun para ahli medis membantah klaim tersebut. Seorang dokter menjelaskan bahwa selama hemodialisis, hanya sebagian kecil darah, sekitar 200-250 ml, yang bersirkulasi melalui mesin pada satu waktu. Meskipun demikian, pemadaman listrik mendadak tetap dapat mengganggu proses dialisis dan membahayakan stabilitas pasien yang kondisinya kritis.
Investigasi dan Tindakan Tegas
Pihak berwenang setempat, yang diwakili oleh DM Jasjit Kaur, telah mengambil tindakan tegas terkait insiden ini. Kaur mengunjungi rumah sakit, menyita seluruh catatan unit dialisis, dan memastikan bahwa penyelidikan menyeluruh akan dilakukan. Kaur juga menyatakan bahwa badan yang bertanggung jawab atas pengelolaan unit dialisis, yaitu Sanjeevani, sebuah perusahaan swasta yang beroperasi di bawah kemitraan publik-swasta sejak 2020, akan dimasukkan ke dalam daftar hitam karena diduga melakukan salah urus dan tidak menjaga kebersihan unit tersebut. Kasus ini sedang didaftarkan untuk proses hukum lebih lanjut.