Seruan Trump Picu Gejolak Pasar: Harga Minyak Melonjak, Investor Cemas

Kekhawatiran global melonjak seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel, yang memicu reaksi signifikan di pasar keuangan dunia. Seruan mendadak dari Presiden AS, Donald Trump, kepada warga Teheran untuk mengungsi telah mengirimkan gelombang kejut melalui pasar saham dan komoditas, terutama harga minyak.

Pasar saham berjangka AS mengalami penurunan tajam, sementara harga minyak mentah melonjak secara signifikan. Situasi ini dipicu oleh laporan bahwa Trump mempercepat kepulangannya dari pertemuan puncak G7 di Kanada, memicu spekulasi tentang kemungkinan tindakan militer AS terhadap Iran. Ketegangan ini berakar pada konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran, yang telah memicu serangkaian aksi balasan yang meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut.

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menyoroti bahwa kekhawatiran utama adalah potensi dimulainya tindakan militer AS di Iran, yang menciptakan ketidakpastian baru di pasar global. Peristiwa ini memicu penghindaran risiko, dengan investor bergegas menuju aset yang lebih aman. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,46%, sementara kontrak berjangka Eropa anjlok 0,69%. Harga minyak mentah sempat melonjak lebih dari 2%, mencerminkan kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan dari wilayah tersebut.

Sebelumnya, pasar sempat menunjukkan harapan akan de-eskalasi setelah laporan bahwa Iran sedang mencari gencatan senjata dengan Israel melalui mediasi AS. Namun, harapan ini dengan cepat pupus ketika aksi saling serang antara kedua negara meningkat, termasuk laporan tentang rencana Israel untuk menargetkan lembaga penyiaran negara Iran dan fasilitas pengayaan uranium.

Ketidakpastian yang meningkat di Timur Tengah telah mendorong investor untuk mencari perlindungan di aset safe haven. Harga emas naik 0,5%, mencerminkan permintaan yang meningkat di tengah kekhawatiran global. Sementara itu, obligasi pemerintah AS mengalami kenaikan, menyebabkan imbal hasil turun di seluruh kurva. Imbal hasil obligasi acuan 10 tahun turun sekitar 2 basis poin menjadi 4,43%.

Dolar AS menguat terhadap euro, yen, dan poundsterling, menegaskan perannya sebagai aset safe haven di masa ketidakpastian. Namun, pergerakan dolar tetap dalam kisaran yang lebih ketat, menunjukkan kehati-hatian investor di tengah situasi yang berkembang pesat.