Kontroversi Wisata Hiu Paus di Gorontalo: Antara Daya Tarik dan Potensi Eksploitasi
markdown Gorontalo, sebuah provinsi yang terletak di bagian utara Pulau Sulawesi, menawarkan pesona wisata bahari yang unik, salah satunya adalah interaksi dengan hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango. Aktivitas ini menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara, namun juga memunculkan perdebatan mengenai etika dan keberlanjutan praktik pariwisata tersebut. Kontroversi ini mencuat setelah seorang pembuat konten media sosial mengangkat isu eksploitasi dalam kegiatan wisata hiu paus di wilayah tersebut. Video tersebut membandingkan praktik pemberian udang kepada hiu paus dengan kegiatan memberi makan ikan lele, sehingga menimbulkan tanda tanya besar terkait dampaknya bagi kelangsungan hidup hewan tersebut.
Penyelam senior Gorontalo, Wawan Iko, menanggapi kekhawatiran tersebut dengan memberikan penjelasan bahwa pemberian udang bukanlah upaya menjinakkan hiu paus, melainkan sekadar stimulus agar mereka mendekat ke permukaan air. Menurutnya, hiu paus cenderung berada di dasar laut jika tidak ada rangsangan berupa udang. Ia juga menegaskan bahwa selama hampir satu dekade pariwisata hiu paus di Botubarani berjalan, tidak ada individu yang menetap secara permanen. Hiu-hiu tersebut datang dan pergi, bahkan beberapa di antaranya telah dipasangi pelacak dan menunjukkan pola migrasi yang luas.
Kondisi Perairan yang Mendukung
Salah satu faktor yang membuat Botubarani menjadi lokasi favorit hiu paus adalah kondisi perairan yang ideal. Kedalaman pantai yang curam dan lokasinya yang diapit oleh tanjung menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman bagi megafauna laut ini. Wawan Iko menambahkan bahwa semua hiu paus yang muncul di perairan Botubarani adalah jantan dan berusia remaja.
Penjelasan dari Dinas Kelautan dan Perikanan
Plt. Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut dan PSDKP DKP Provinsi Gorontalo, Hartaty Isima, menjelaskan bahwa aturan yang berlaku melarang interaksi langsung dengan hiu paus, seperti memberi makan dan menyentuh mereka. Namun, ia mengakui bahwa penaburan udang oleh pelaku wisata berfungsi sebagai stimulus agar hiu paus mendekat ke permukaan. Ia juga menekankan bahwa kehadiran hiu paus di Botubarani lebih disebabkan oleh ketersediaan plankton dan ikan kecil di sekitar rumpon yang ada di zona interaksi, bukan semata-mata karena udang yang ditebar wisatawan.
Upaya Konservasi dan Monitoring
Pemerintah Provinsi Gorontalo berupaya menjaga kelestarian habitat hiu paus dengan mengusulkan pembentukan kawasan konservasi laut di Botubarani, seperti yang telah diterapkan di Olele. Edukasi kepada masyarakat dan pelaku wisata terus dilakukan, termasuk mengganti praktik lama memberi limbah udang dengan udang kecil sebagai stimulus. DKP bekerja sama dengan BPSPL Makassar melakukan monitoring biofisik secara berkala di zona interaksi hingga zona inti Teluk Gorontalo. Monitoring ini mencakup kondisi habitat, sumber daya ikan, dan biodiversitas laut non-ikan. Formasi karang berbentuk pinnacle juga ditemukan di beberapa lokasi, menambah keunikan ekosistem kawasan ini.
Hartaty Isima menegaskan bahwa pengelolaan wisata hiu paus di Botubarani didasarkan pada tiga prinsip utama: melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan. Tujuannya adalah untuk memastikan konservasi laut berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan berbagai instansi dan pemantauan berkelanjutan, Pemprov Gorontalo menunjukkan komitmen dalam menjaga kawasan konservasi laut yang penting bagi hiu paus dan masa depan masyarakat lokal.
Pengelolaan wisata hiu paus di Botubarani menjadi contoh bagaimana pariwisata dapat berjalan seiring dengan upaya konservasi. Keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.